Mencoba memaknai hari-hari

Rabu, 22 September 2010

Teruntuk Bidadari Mungilku di Surga

Kadang hujan tak selalu turun deras

Kadang hanya gerimis

Kadang hanya rintik

Bahkan kadang pula hanya gumpalan mendung

Tapi kadang juga turun tanpa pertanda

Tapi langit selalu setia menawarkan angin untuk menghapusnya

dan mengirim cahaya di sela-selanya.

Maka jika kurindu 'afra'

kutulis cinta pada lukisan awan

dan membiarkan cinta menoreh surga

di sana

Jumat, 09 Oktober 2009

Dan Bersabarlah,

Perjalanan ini, terasa sangat melelahkan, demikian sepotong syair Ebiet.G.Ade. Tapi buatku, seperti biasa perjalanan ini tetap harus dilalui. Menjadi rutinitas harian ketika harus bangun sebelum subuh, lalu berkejaran dengan jarum jam dinding di dapur untuk menyiapkan sarapan (sekaligus makan siang), beres-beres rumah, menyiapkan pakaian, mandi dan kemudian bergegas untuk segera berangkat mengajar tepat pukul 06.30.

Empat belas kilometer dari rumah ke sekolah mungkin bukan hal yang berat jika jalan yang ditempuh adalah jalan tol bebas hambatan yang lurus mulus. Tapi jika jalanan itu adalah jalan desa penuh kerikil dan lubang di sepanjang jalur, maka empat belas kilometer adalah empat puluh lima menit yang menyakitkan, apalagi dalam tiga bulan pertama buat ibu hamil sepertiku. Dua puluh empat jam mengajar di sekolah dalam sepekan benar-benar menjadi beban sebab hanya akulah satu-satunya guru IPA di sekolah. maka jika aku libur, siapa yang akan menggantikan? Barangkali sekarang adalah pilihan yang langka untuk memilih menjadi guru di tempat yang tanggung seperti sekolahku. Hampir-hampir aku tidak sanggup melaluinya. Tapi, bertimbun kemudian kesyukuranku sebab segalanya dipermudah. Thanks GOD. Ada saja jalan untuk menjadikannya terasa mudah meski juga selalu ada saja komentator-komentator yang membuat pedas telinga, entah itu datang dari rekan-rekan sejawat, entah dari tetangga, bahkan juga dari saudara. Tapi kurasa lebih baik menyikapinya dengan biasa. Mendengarkan yang tidak perlu, kemudian membuangnya ke tong sampah. Mendengarkan yang baik kemudian menyimpannya sebagai pesan yang berharga. Asalkan tidak membuat mereka merasa tak berharga. Seringkali kita membutuhkan waktu untuk membuktikan dan bukan sekedar menanggapi dengan kata-kata, sebab lebih banyak penonton yang pandai berkomentar ketimbang pemain yang berusaha memenangkan sebuah perlombaan. Maka wajarlah bila lebih banyak orang tanpa sadar memilih menjadi komentator.

Senin, 27 April 2009

jika boleh kubertanya

Kenapa tak kau biarkan dulu aku berjalan
menapakkan kaki biar jalanan ini kulalui
hingga sampai padamu tak cuma sendiri

kenapa tak kau biarkan dulu aku bicara
menyampaikan bahasaku dalam bahasanya
hingga sampai padamu tak cuma sendiri

kenapa tak kau tanyai dulu aku
kenapa kuambil sejenak genggamku darimu
hingga bisa kubuktikan aku sampai padamu tak sendiri

kenapa tak kau lihat hatiku
masih mekar perjuangan tengah semarak
masih bersimbah peluh harapan

kenapa masih kau lumuri keringatku dengan luka
bait kata-kata yang menghembus prasangka
jika boleh kubertanya...

Kamis, 16 April 2009

belahan jiwa

Padanya...
ada seribu alasan untukku dapati sejuta kebaikan
lewat apa saja yang kutatap
pada wajahku dalam bola matanya
pada lelahku dalam peluknya
pada celotehku dalam kesabaran telinganya
pada setiap gemuruh dadaku dalam hatinya
seperti aku melihatnya begitu rupa
lewat apa saja yang kurawat
pada wajahnya dalam penglihatanku
pada letihnya dalam dekapku
pada titahnya dalam pendengaranku
pada setiap denyut nadinya dalam darahku
belahan jiwaku

Senin, 09 Maret 2009

BELAJAR

Kalau sekedar kita saksikan semesta yang berkubah langit ini lalu melewatkannya rasanya sangat mubazir. Begitupun ketika kita menjalani kehidupan ini dengan tanpa menelisik gurat-gurat makna yang tersembunyi di baliknya, akan menjadi sia-sia semata.

Pada sebuah kesempatan, dalam Forum Annisa yang digelar secara rutin oleh salah satu Rohis SMA ternama di Tembilahan ini, saya menemukan sebuah pertanyaan yang menarik yang di ajukan oleh salah seorang siswi yang menjadi audien kala itu. Ia bertanya tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi krisis antara IQ-EQ dan SQ. Petanyaan yang berbobot menurut saya mengingat banyak remaja sekarang ini yang tidak peduli lagi soal mengolah potensi dirinya. Dan kebahagiaan saya justru buncah karena masih ada segelintir remaja yang peduli membahasnya.

Saya kemudian mencoba mengajak mereka mereview sejenak sejarah kehidupan manusia sejak Adam As diciptakan seorang diri pertama kali di Surga. Pada saat itu Allah lantas membekalinya dengan kemampuan intelektual untuk mengenali nama-nema benda di alam ini. "Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama yang ada di alam, kemudian DIA mempresentasikan kepada malaikat. Kemudian Allah berkata kepada Adam, ceritakan lah kepadaKU nama-nama benda di alam jika kamu benar" (QS. Al-Baqarah: 31).

Setelah Hawa kemudian diciptakan untuk menemani kesepian Adam yang seorang diri di surga, Allah kemudian juga mengajarkan tentang bagaimana mengelola kemampuan emosional sang Nabi pertama. Allah memperbolehkan Adam berbuat apa saja di surga asalkan tidak mendekati apalagi memakan buah terlarang. Dan sebuah gambaran yang nyata bahwa kemampuan mengendalikan emosi adalah sesuatu yang senantiasa menguji kehidupan manusia bahkan sekualitas Adam As sekalipun. Hingga pada akhirnya Adam pun melanggar larangan Allah SWT. Kembali jika kita menelisik hal ini, sebuah pembelajaran kembali bahwa Allah SWT sebenarnya membekali manusia sebentuk kecerdasan emosional (EQ).

Adam kemudian menyesali perbuatannya, dan Allah berkenan mengampuni dengan terlebih dahulu membekalinya dengan kecerdasan spiritual. Allah mengajarkan pada Adam untuk beristigfar dan bertaubat. Barulah setelah ketiga kecerdasan ini yaitu IQ, EQ dan SQ dibekalkan kepada Adam, Allah kemudian memerintahkan kepada Adam As untuk turun ke dunia.

Sekelumit catatan di atas adalah sedikit yang mungkin terekam oleh saya. Pada intinya, kita dapat membaca bahwa ketika Allah menjadikan kita sebagai penghuni bumi ini, menjadikan kita sebagai khalifah (pemimpin) dan juga agar kita tetap beribadah kepadaNYA bukanlah sebuah hal yang sepele dan sia-sia. Sebab di sini Allah juga menghendaki kita untuk menginterpretasikan kemampuan kita bagi kemakmuran alam ini dengan senantiasa berjalan di atas rel yang disediakanNya. Disisi lain kita juga bisa menyimak bagaimana seharusnya kita tetap belajar dan belajar mengasah multiple intelegence yang Allah amanahkan. Belajar mendidik diri sendiri dan kemudian mengajarkannya kepada orang-orang di sekitar kita. Mengabaikannya dan atau melupakannya begitu saja adalah sama saja berarti melalaikan amanah Allah. Belajar untuk membagi-bagikan cahaya. Sedikit barangkali, tetapi betapapun kecilnya sebuah cahaya, jika energi untukyalakannya senantiasa terpelihara, maka cahaya itu akan selamanya bersinar. Allahualam bisshowab.

Sabtu, 28 Februari 2009

PadaMU kutitipkan

PadaMU kutitipkan
segala yang tak mampu kuprediksikan
dengan seluruh ikhtiar akalku
pun dengan segenap daya logikaku
Maka padaMU kubentangkan sehampar keyakinan
akan setiap detail penjagaanMU
pada setiap hembusan nafasku
Saat aku terpana menyaksikan titahMU berlaku
Saat aku tergagap menerima anugerahMU
Saat aku tergugu sebab terharu menyapa sayangMU
Saat aku terheran-heran membaca segalanya
PadaMU kutitipkan
setiap helai kehidupan yang Engkau berikan
Tuhan...
aku berpegangan erat padaMU

Senin, 16 Februari 2009

ASAP DAN HUTAN RIAU (AGAIN)


Beberapa tahun belakangan ini, di setiap musim tanam dan musim kering, Riau selalu berhadapan dengan ritual bencana asap, disamping juga bencana banjir dan pencemaran sungai. Bencana ini seolah menjadi hal yang lumrah dan merupakan bagian dari ritme kehidupan yang harus dilalui, meskipun asap yang ditimbulkan oleh pembakaran hutan dan lahan ini menimbulkan kerugian milyaran rupiah setiap tahunnya. Alhasil, Riau pun dinobatkan sebagai salah satu propinsi penghasil asap terbesar di Indonesia. Tetapi anehnya, Pemerintah Daerah tidak juga memberikan respon yang berarti untuk memperbaiki keadaan dan masih saja bergulat dengan permasalahan klasik, seperti kekurangan dana dan peralatan. Inilah realita yang ada di propinsi yang menganggarkan belanja tahunannya senilai dua trilyun rupiah lebih ini.

Meneliti kembali runtutan peristiwa yang berakibat bencana ini, barangkali tidak lah salah bila bencana ini merupakan akibat dari kesalahan terhadap alam ketika pada tahun 1980-an mulai terasa dampak memburuknya kesehatan hutan alam Riau akibat eksploitasi hutan secara besar-besaran. Ratusan hektar hutan dilepaskan kepada pengusaha HPH, disusul politik konversi dengan memberikan peluang yang besar kepada pengusaha sawit dan HTI serta insentif bagi IPK (Izin Pemanfaatan Kayu) kepada pengusaha perkbunan dan Dana Reboisasi kepada pengusaha HTI. Akhir tahun 1990-an kebutuhan dunia akan CPO (minyak sawit) meningkat pesat. Ditambah ambisi dua industri pulp dan paper menjadi eksportir kertas terbesar di dunia dan dilengkapi dengan keinginan pemerintah Daerah untuk memperluas perkebunan sawit menjadi 1,02 juta hektar dari 2,5 juta yang ditargetkan, sehingga terciptalah simbiosis mutualisme antara pengusaha dan penguasa yang meng-iya-kan pembersihan lahan (land clearing) melalui praktek membakaran hutan yang pada akhirnya meluluhlantakkan seluruh tutupan hutan Alam Riau menjadi sekitar 785 ribu hektar saja pada April 2003.

Secara biologis, pembakaran lahan yang merupakan salah satu cara yang digunakan oleh Perkebunan Besar di Riau memang dapat menaikkan pH tanah menjadi antara 5 -6, sehingga cocok untuk ditanami sawit. Tetapi pada dasarnya land clearing ini menimbulkan kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembakaran hutan mengakibatkan kerugian ekonomi, erosi karena tanah 20 – 30 kali lebih peka dibandingkan dengan daerah hutan yang tidak terbakar, terjadinya perubahan iklim global, hilangnya habitat satwa dan erosi berbagai bibit benih tumbuhan dan fauna di lantai hutan, mempercepat penghilangan biomassa lantai hutan, mempercepat proses pencucian hara tanah, terjadinya banjir di daerah yang hutan gambutnya terbakar, dan polusi udara serta air.

Kebakaran hutan juga berdampak pada kesuburan tanah. Sifat fisika tanah berubah dengan rusaknya struktur tanah sehingga menurunkan infiltrasi dan perkolasi tanah. Hilangnya tumbuhan juga membuat tanah menjadi terbuka sehingga energi pukulan air hujan tidak lagi tertahan oleh tajuk pepohonan. Pada fisik kimia tanah juga terjadi peningkatan keasaman tanah dan air sungai. Untuk sifat fisik biologi tanah, kebakaran hutan membunuh organisme tanah yang bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah. Makroorganisme, seperti cacing tanah yang dapat meningkatkan aerase tanah dan drainase tanah juga menghilang di samping hilangnya mikroorganisme tanah seperti mikorisa untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara P, Zn, tambang (Cu), magnesium (Mg) dan besi (Fe).

Inilah kesalahan sebagian kita terhadap alam yang merupakan ayat-ayat qauniyah-nya Allah SWT. Padahal telah jelas dikatakan di dalam Alqur’an bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah akibat ulah manusia juga. Kita baru kerepotan menyediakan masker ketika musim asap itu tiba. Kita baru sibuk membicarakan penyakit ISPA ketika asap telah menyesakkan dada. Pendidikan mulai mengeluhkan semrawutnya kalender pendidikan ketika sekolah-sekolah diliburkan dengan alasan asap yang membahayakan. Ya, asap seolah menjadi momok yang tidak berujung pangkal.

Sangat disesalkan memang. Undang-undang dan peraturan pemerintah tentang penanganan kasus pembakaran hutan ini bukan tidak ada. Tetapi kesemuanya itu seolah hanya lips servise tanpa ada tindak lanjutnya. Jika pun ada hanyalah produk setengah-setengah yang lantas dilupakan setelah ritual bencana itu berakhir.

Di sinilah kita hari ini, menangguhkan kepercayaan yang rasanya semakin mewah dan mahal. Terus menerus kita membangun kepercayaan sehingga ia menjadi kata kunci. Tetapi, itu pun hanya pemikiran sebagian dari kita yang peduli pada alam, apalagi hedonisme penduduk Riau termasuk Indragiri Hilir seolah turut andil dalam kelalaian untuk menjaga alam ini. Terbungkam materi, bangunan-bangunan kokoh, perkembangan ekonomi dan juga teknologi yang tidak dibarengi dengan landasan keilmuan yang berarti. Tetapi di sisi lain rasa malas untuk memperhatikan alam semakin menjadi, kemerosotan pendidikan yang terkubur tipu daya materi, keegoisan yang mengenyampingkan keadilan dan rasa kasih sayang pada sesama adalah wajah Riau saat ini. Salah satunya ketika penduduk miskin di sekitar areal hutan yang terbakar dan terpencil mengerang kesakitan sekaligus kesulitan, pada saat itu juga jalan-jalan ke luar negeri justru menjadi trend sebagian masyarakat atas. Padahal juga negara yang dikunjungi menodong kita sebagi eksportir asap yang mengganggu kehidupan mereka. Padahal lagi sebagian pengusaha sawit dan juga penadah minyak sawit itu adalah dari negara tetangga. Mengapa kita enggan untuk unjuk peduli memikirkan nasib bumi yang terus mengepulkan asapnya karena tak mampu lagi mengingatkan negeri kita dengan hanya banjir saja.

Mungkin tak kan habis-habisnya bila terus kita korek kepulan asap di Riau ini. Upaya pencegahan, penanggulangan dan pemantauan sudah sepantasnya segera dilakukan oleh semua pihak di Riau. Menjadi pemikiran untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan bumi Riau, agar Allah tak perlu berkali-kali mengingatkan kita karena hanya orang-orang yang lalai lah yang tak mengindahkan peringatan Allah. Allahualam bishowab. (Rieve)

Ketika Ukhuwah diuji

"Ya Allah,
aku berdoa kepadaMU
tolong jangan kaburkan penglihatanku dalam membelaMU dalam setiap langkahku.
Tolong rapikan yang terserak dan rekatkan yang terlepas.
Tolong benahi yang hancur dan tegakkan yang runtuh.
Tolong kuatkan yang rapuh dan cairkan yang membeku.
Tolong tenangkan yang beriak dan bangunan yang terlelap.

Ya Allah,
tak ada satu parameter pun yang mampu mengukur seberapa besar kuasaMu atau mengintip meski sehelai rencanaMu. Aku hanya terus belajar meluruskan setiap bagian ragaku untuk menghadapMU seutuhnya agar dapat membawa peran sertaMU dalam setiap tindakanku. Ampuni bila ku tak peka tuk bersyukur atas segala yang telah Engkau karuniakan padaku, atas setiap bentuk kasih sayang yang Engkau curahkan lewat sekeping ujian, ataupun peringatan. Maka ku yakin hanya Engkau lah yang berkuasa atas segalanya.

Pada barisan ini aku masih berjalan dengan ragam kecepatan yang berubah-ubah. Persis sebagaimana grafik GLBB dalam mekanisme keilmuan yang kutahu, kudapat melihat betapa lemahnya aku sebagai hambaMU. Dari sana pula kulihat betapa Maha Besarnya ENGKAU menjaganya dalam sebentuk grafik terkontrol yang tetap melibatkanMU dalam setiap bagian kehidupanku. Maka kubuktikan pengawasanMU yang seiring dengan curahan cintaMU. Betapa penyayangnya ENGKAU yang memberi hikmah pada setiap peristiwa meski aku terkadang demikian lamban memaknainya.

Ya Rabb... dengan seluruh kecintaanku padaMU, aku berdoa semoga ENGKAU berkenan meringankan beban saudara-saudaraku, dan tidak menjadikanku bagian dari mereka yang menambah beban. ENGKAU saja yang berhak mengukur setiap bentuk pengorbanan.
Ya Allah, aku berdoa untuk saudara-saudaraku yang bersetia memenangkanMU. Agar ENGKAU jaga ukhuwah ini untuk senantiasa sebening kasih sayangMU. Amin

Kamis, 12 Februari 2009

KOLASE WAKTU

"Ada yang bilang waktu adalah obat yang paling mujarab dalam menyembuhkan luka. Tapi kenapa begitu banyak kenangan dan memoar yang dituliskan? Kenapa kuburan terus dipenuhi peziarah, mengenang yang sudah tiada? waktu ternyata tidak pernah bisa menghilangkan racun kesedihan. Membuatnya jadi tertahankan, iya. Tapi pedihnya akan tetap nyata. Dan masing-masing kita yang sudah terkena racun kesedihan menjadi manusia dengan racun yang masih bergerak dan berputar-putar mengalir bersama oksigen dalam darah. Terus ada di sana tanpa bisa hilang. Waktu hanya seperti adrenalin dosis tinggi yang membuat kita melupakan rasa sakit untuk beberapa saat yang membuat kita bisa terus melangkah."
READ MORE...

Jika Hidup adalah PIlihan

Begitu banyak orang yang berfikir pragmatis dan memilih jalan termudah demi sebuah kebahagiaan. Begitu sederhanakah makna 'kebahagiaan' itu hingga begitu banyak orang dengan cepat mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan-pertimbangan yang memberatkan. Maka pertimbangan yang paling banyak nilai plus nya yang akan dijadikan sebagai sebuah keputusan.

Saya bertanya; seberapa berarti nilai 'plus' itu bagi mereka? Dan selanjutnya atas dasar apa mereka memberi nilai 'plus' itu? Jawabannya lebih banyak orang yang menilai segala sesuatu dari sisi duniawi, atas pertimbangan-pertimbangan pragmatis sekaligus menguntungkan. Berbagai alibi yang bermunculan pun demikian rapi dikemas dengan tema 'demi kebaikan bersama'. Ternyata memang harga sebuah keputusan tidak lebih dari sebuah pembenaran dan bukan kebenaran. Setidaknya itu yang lebih banyak terjadi. Menyedihkan sekaligus menunjukkan betapa murahnya harga diri pada sebagian kalangan saat ini. Idealisme seolah hanya tulisan bersejarah yang cukup dikaji sebagai kenangan karena dalam perkembangannya lebih banyak yang dikalahkan ketika berhadapan dengan perkembangan sikap, pola dan tuntutan bermasyarakat. Kesimpulannya, tidak ada satu parameter pun yang mampu menilai setiap individu secara detail karena segala sesuatu bisa berubah. Mungkin di sinilah letak kemutlakan takdir yang tidak bisa diubah. Setiap orang hanya bisa berikhtiar, tetapi eksekusi akhirnya adalah mutlak merupakan kehendakNYA. Maka di sinilah juga peran doa mengukuhkan keimanan. Jika ada yang mengatakan bahwa doa bisa mengubah takdir, itu sangatlah benar. Sebab pada saat berdoa dengan bersungguh-sungguh, pada saat itu kita menyerahkan sepenuhnya kepadaNYA. Dan ketika telah menyatakan diri untuk berserah sepenuhnya, itu berarti pula bahwa kita tunduk atas semua kehendakNYA, menyamakan persepsi kita dengan persepsi Sang Maha Berkehendak, mengalahkan ego kita dengan kasih sayangNYA.

Hidup ini adalah besaran waktu yang dipenuhi pilihan-pilihan. Nilai dari setiap pilihan adalah nilai keimanan itu sendiri karena pada dasarnya pilihan-pilihan hidup itu adalah ujian akidah tentang bagaimana cara kita menentukan kebijaksanaan, tentang bagaimana kita menempatkan diri sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab atas perannya sebagai pemimpin setidaknya sebagai pemimpin bagi diri sendiri. Tentang bagaimana kita menerjemahkan setiap episode kehidupan sebagai bentuk pembelajaran dariNYA untuk memperbaiki kualitas kita sebagai manusia.

Di sanalah kemudian kita dihadapkan pada interaksi kita antar sesama manusia. Pasang surut keimanan kemudian menyertainya. Cobalah berbicara dengan beragam jenis manusia, akan kita dapati beragam pemikiran, beragam pola hidup, beragam cara pandang yang menentukan caranya bersikap dan berjalan. Ada yang setengah-setengah mengimaniNYA, ada yang salah kaprah memahaminya, ada yang berpura-pura mengimaniNYA dan ada yang bersungguh-sungguh mengenaliNYA.

Jika hidup memang hanya sesederhana 'kebahagiaan' duniawi tentu segala sesuatu dengan mudah diputuskan atas nilai-nilai 'plus' bertaraf kebahagiaan duniawi, semisal bahagia memiliki banyak teman, kebahagiaan mendapatkan status dalam masyarakat. Tapi sungguh, bukankah hidup tidak sebatas untuk kebahagiaan dunia? Bukankah hidup ini adalah perjalanan menempuh kehidupan setelah mati? Mari kita berserah diri sepenuhnya kepada Sang Maha Penentu. Semoga petunjukNYA mengiringi setiap bentuk episode hidup yang kita jalani, meski mungkin reaksi negatif menyerbu dari segala sisi. Saya, entahlah dengan anda... meyakini bahwa setiap ketentuanNYA adalah hal terbaik menuju hal yang paling baik menurutNYA. Sekali lagi, menurutNYA dan bukan menurut persepsi manusia. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati-hati kita. Amiiin...

Selasa, 30 Desember 2008

Maaf dan Terimakasih

Bertahun-tahun yang lalu, hampir enam tahun yang lalu mungkin ketika kata-kata yang diucapkan seorang teman kos ini mulai merilis rekamannya dalam benakku menjadi memory otak tersendiri yang kemudian menjadi sangat spesial buatku. Masih di Karangmalang Blok A waktu itu dan musim kemarau serta persediaan air di bumi karangmalang seolah amblas meresap-resap ke dasar bumi sehingga air menjadi barang langka yang luar biasa di kosku, bahkan sekedar untuk mandi pun harus migrasi ke masjid kampus.
"Hanya ada dua kata yang opaling indah di dunia ini yaitu maaf dan terimakasih", katanya.
Bertahun-tahun kemudian aku mencoba menyepakati kalimatnya. Menurutku masih banyak kata-kata lain yang tak kalah indah, syukur misalnya. Atau cinta, atau sayang, atau ... atau... dan seterusnya. Tapi pada akhirnya aku memang menyepakatinya. Betapa dua kata yang diucapkannya tadi adalah kata-kata terindah yang pada kenyataannya kubuktikan dalam larik-larik hidupku. Kucatat: tidak banyak orang yang memang mampu mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Entah mungkin karena sudah terlanjur bersampul kekecewaan, aku kadang bahkan tak mendapatinya. Atau juga mungkin karena terlanjur berbahagia, aku kadang juga tak menemuinya. Rectoverso yang tak melahirkan apa-apa dalam filosofiku. Tapi justru disitu letak harganya, di situ kualitas kemanusiaannya dibuktikan, dan di situlah letak indahnya. Banyak orang merasa bersalah lalu mencari-cari kesalahan rivalnya hingga pada akhirnya kesalahannya hanya menjadi buih di lautan. Hilang tak berbekas, tak menyisakan pelajaran. Banyak juga orang yang diuji dengan keberuntungan, tapi tak menyadari posisinya hingga keberuntungan itu pun tak menyisakan apa-apa. Hanya debu yang beterbangan. Tak ada harganya.
Sejarah. Itu adalah konsekuensi logis dari perjalanan waktu. Mau tidak mau pasti ada yang kita rekam dalam kaleidoskop kehidupan. Sedikit banyak selalu ada yang tak bisa terlupa. Kadang berupa kebahagiaan dan kadangkala juga sebaliknya. Tapi betapa pun heroiknya yang tertulis di sana, tak semua orang juga bisa memahaminya. Seperti rentetan tulisan-tulisan kita juga tak semua orang bisa mengerti maksudnya. Tapi aku yakin selalu ada orang yang mengerti meski hanya satu dua. Cukuplah itu, dan di situlah juga letak harganya bahwa level koneksitas antara setiap orang tidak sama, tergantung pada berapa besar energi yang dikeluarkannya dengan sungguh-sungguh dan bukan pada seberapa sering ia menciptanya.
Maka ketika hari ini aku mengenang kata-kata yang kudengar enam tahun silam itu, itu juga menjadi salah satu titik sejarah bagiku, dimana aku mulai menyadari betapa berartinya sebuah ketulusan. Kata 'maaf', betapapun sering diucapkan tapi akan membuahkan kesalahan yang terulang jika tidak ada ketulusan di dalamnya. Pun dengan 'terimakasih', kadang terlupa menyampaikannya karena memang tidak ada ketulusan saat mendapati momen-momen yang seharusnya menggunakan kata itu.
Banyak orang selalu beralibi bahwa ia lupa lah, buru-buru lah, terlalu lelah lah, banyak pikiran lah dan lain sebagainya. Tapi cobalah lihat kembali, berapa berat sih sekedar mengucapkan 'maaf'? Dan berapa lama sih sekedar mengucapkan 'terimakasih'? Padahal setiap orang yang mendengar kata-kata itu seolah mendapatkan obat yang menyembuhkan banyak hal, bahkan mungkin menelurkan kesadaran. Pada akhirnya aku sadar bahwa setiap orang memang pada dasarnya memiliki sisi egosentris. Tidak terkecuali anda dan juga aku. Maka tak heran jika ada saja orang yang lupa pada orang-orang dekatnya, tapi justru itu juga jalan untuk menemukan siapa sebenarnya orang-orang yang tulus hatinya yang berhak disebut 'saudara' seperti seharusnya seorang saudara.

Senin, 29 Desember 2008

So, here it is...

Kita sudah sampai di penghujung 2008. Bersamaan pula dengan akhir tahun 1429 Hijriyah. Sudah penuh sesak rekam jejak tahun ini mengisi kepala. Ada segalanya di sana. Seperti bioma, semua peristiwa membentuk nama untuk tiap detail peristiwa yang menghuninya sepanjang waktu. Sejak awal tahun lalu tentu sudah sangat kaya seharusnya kita, kaya dengan kebijaksanaan. Kaya dengan pelajaran hidup. Kaya dengan penyikapan. Sudah sampai kemana-mana kita melanglang buana, menelan segalanya yang kita ingini maupun sebaliknya. Jadi sebenarnya sudah sampai di mana kita merekamnya. Mungkin ada yang perlu kita edit di akhir tahun ini agar tak perlu terulang yang tidak perlu sebab hanya akan membubuhkan kesia-siaan. Mari berbernah!

Minggu, 30 November 2008

TABIAT JIWA MEMANG BEGITU

Tidak banyak kejadian seperti itu, ketika engkau bertemu dengan orang-orang yang sama dalam hidupmu. Tetapi kejadian itu ada. Tidak selalu menyisakan perih, justru kadang membuatmu banyak bersyukur, justru kadang membuatmu tertawa, menertawakan sepenggal perjalanan hidup yang konyol. Dan di situlah justru nilainya. Belajar dari kekonyolan yang akan membuatmu tumbuh dewasa.

Sungguh tidak banyak kejadian seperti itu, ketika engkau bertemu dengan sejumlah orang yang memiliki urusan yang serupa denganmu suatu saat dalam kehidupannya. Entah itu menjadi bagian masa lalunya, atau engkau sendiri yang mengalami kejadian itu di masa kini, atau justru kalian memiliki masa lalu yang sama dalam kurun waktu yang berbeda. Sekilas memang tampak plantonik di sini. Sebagian bersinergi dengan dengan melankolis. Tapi cobalah lihat: ternyata ada kesaman watak dari orang-orang yang kalian temui. Seperti juga kesamaan sifat yang kalian miliki. Barangkali karena sifat yang ada dalam diri kalian itu mengundang orang-orang yang sama bertendensi. Ah, sekilas memang terlihat rumit dan tak hendak dipelajari, karena begitu dikuak sedikit, terbukalah seluruh rumus kerumitan itu, yakni bahwa engkau memiliki kesamaan takdir meski tidak melulu berujung sama.

Takdir, sungguh tak bisa dianalisis dengan metode hereditas apapun, atau juga tak bisa diungkap oleh teori metafisika yang paling mumpuni sekalipun. Bahkan justru mendekatkanmu pada kekafiran jika ilmu-ilmu itu tidak selaras dengan iman. Itu sebabnya Allah mengingatkan manusia akan keterbatasan ilmunya sekalipun menembus tujuh lapis langit tak kan mampu menguak ilmuNYA dengan utuh.

Pada suatu kesempatan Rasulullah bersabda: “Jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Bagi yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling bertemu dan menyatu. Dan bagi yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling menjauh dan terpisah”.

Dan begitulah memang nyatanya tabiat jiwa. Memiliki kecenderungan untuk mengenali yang sama hajatnya, yang sesuai sifatnya, yang mencukupi kebutuhan jiwanya. Makanya tidak banyak yang disebut sahabat dekat apalagi saudara. Sebab keterikatan itu pada fitrahnya memang begitu.

Tapi juga tak cukup sampai di situ. Persaudaraan itu dalam tingkat terendahnya adalah berbaik sangka kepada saudaranya. Di sini tidak berlaku praduga beraroma nafsu, tidak juga iri dengki apalagi dendam. Yang berlaku hanyalah khusnudzon dan selalu demikian. Sementara dalam tingkat tertingginya adalah itsar, mendahulukan saudara di atas kepentingan sendiri. Dan di sini semua sakit hati pupus lenyap dicover ridho. Selesailah semua masalah. Tidak ada kedongkolan. Tak mudah memang. Selalu ada ganjalan bernama luka jika tak segera diawasi oleh iman yang luar biasa. Iman yang senantiasa memenangkan Allah di atas segalanya. Bahkan seluruh yang melekat pada tubuhmu, juga seluruh yang kau punya bahkan nyawamu. Sebab itu saja sebenarnya milikmu. Ketika engkau kembali kepadaNYA, sebagaimana engkau lahir dulu, sama-sama tak berbusana kecuali selembar kafan yang itu pun hutang dari kepedulian saudara-saudaramu mengurus jasadmu. Itulah akhir bekal kita di dunia. Setelah itu… setelah itu… pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana kita menghadapi pengadilanNYA.

Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang sayapnya patah, barangkali ia sedang lupa bahwa kelak ia akan kembali kepada Sang Pencipta, tempat bermuaranya segala urusan.

Minggu, 05 Oktober 2008

Aku Memlih MemenangkanMU

Ya Allah....
Aku memilih memenangkanMU
atas hawa nafsu, amarah dan keinginan duniawiku
Ya Allah...
Aku memilih memenangkanMU atas dukalara ini
Ya Allah...
Aku berusaha memenangkanMU atas segalanya
Ya Allah...
Aku memilihMU atas segalanya
Ya Allah...
Bukankah ENGKAU tidak pernah mengecewakan seorang pun dari makhlukMU?
Ya Allah...
tidak setitik pun kebahagiaan kecuali bersusah payah meniti ridhoMU
Ya Allah...
kuatkan aku...

Senin, 15 September 2008

SAHABATKU KECEWA

Sahabatku kecewa,
tidak diterima di Fakultas Kedokteran,
sekarang alhamdulillah menjadi konsultan sangat diperhitungkan di beberapa rumah sakit standar internasional

Sahabatku kecewa,
mau menikah dengan pramugari tapi ditolak karena waktu itu dia belum menjadi manusia yang layak untuk menjadi suaminya.
Alhamdulillah sekarang menjadi penyewa pesawat untuk rute beberapa kota, dan punya karyawan banyak termasuk pramugari.

Sahabatku kecewa,
karena droup out dari salah satu perguruan tinggi terkenal, karena waktu itu harus kuliah sambil kerja. Bahkan pernah dipanggil ketua jurusan dan diajukan dua pertanyaan yang sangat memojokkan dirinya yaitu mau kuliah atau mau kerja? Padahal temanku ini bekerja sebenarnya untuk biaya kuliah.
Alhamdulillah, sekarang dia sudah menjadi rektor di perguruan tinggi terkenal yang dibuatnya sendiri.

Sahabatku kecewa,
tamat SMU, mau dinikahi oleh seseorang yang sudah lulus S-2 di bidang bisnis (MBA), sudah mau dinikahi, tapi ditinggalkan begitu saja.
Alhamdulillah sahabatku ini, sekarang sudah jadi dokter spisialis dan pernah juga membantu istri calon suaminya yang pada waktu itu sedang memerlukan perawatan khusus.

Sahabatku kecewa,
sebab sudah bekerja bersungguh-sungguh, dihari ulang tahunnya mendapat hadiah dipecat tanpa alasan yang jelas sebab dipengaruhi oleh fitnah.
Alhamdulillah, sekarang punya perusahaan sendiri, dan punya kebijakan yang luar biasa, yaitu tidak mau memecat siapapun yang menjadi karyawannya.

Sahabatku kecewa,
sebab tidak bisa mengucapkan huruf “r” dengan jelas, semua temen-temennya sering mengolok-ngolok,
alhamdulillah sekarang dia menjadi dosen bahasa inggris dan ahli dibidang pengajaran bahasa inggris bagi sahabat-sahabat lain yang mau kuliah di luar negeri.

Sahabatku kecewa,
pernah ingin menjadi tutor agama di salah satu perguruan tinggi terkenal, namun hasil tes membaca Al-Qurannya pada waktu itu tidak memenuhi stadar yang dibutuhkan.
Alhamdulillah sekarang sudah menjadi pimpinan pesantren berstandar internasional.

Banyak sahabatku yang kecewa dan sampai sekarang juga masih kecewa, sehingga mereka menjadi sakit-sakitan karena berselimut kekecewaan.
Tapi banyak juga sahabat-sahabatku yang kecewa penuh keindahan, sehingga mendapat rizki berkelimpahan “tentunya bukan hanya sekedar uang”, sehingga hidupnya lebih bermanfaat.

Sahabat ku

Berani bersahabat dengan kekecewaan yang produktif ? Atau menjadi mati potensinya karena terbebani aneka kekecewaan.

Berani hadapi tantangan??? Bagaimana pendapat sahabat!!!

WHEN U

When you see people around you
So much suffer and don't know what to do
Think about their sadness
Think about their pain that seems in their eyes
Are you gonna start to give them help
To give a new hope and try to shine their life
Would you share your happines
And make them smile again like othersReff.
Cause its time for usTo start giving
To show them we care
Strengthen them up
Reach their hands.

And show them
They're not alone

Let's hold on together
Let's help other
To live better
Happily ever after.

Jumat, 05 September 2008

Hingga Dhuha Menyapa Indah

Seperti biasa.
langkahmu kerap kali lunglai mengawali hari, lalu kau ingat beribukali zikir tadi pagi. Jangan sampai nikmat Qiyamullail pupus begitu saja saat keenggananmu berangkat kerja mengguncang dada. Susah payah kau lukis rona pelangi pada wajahmu. Kadang kau berceletuk
"Lha, pelangi kan meniskus : melengkungnya ke atas. Kalau senyum harus melengkung ke bawah. Mana bisa disamakan".
Dan sekali lagi kau menghela nafas. Tak tega semburatkan keluh pada tatapan ibu yang setia mengantarmu dengan senyuman. Atau juga betapa kau tak rela menggores pedih pada harapan ayah. Meski hatimu masih saja berangan tentang hari-hari indah nun jauh di sana, bukan di sini. Tak mengapa, katamu. Bukankah ridhomu menjalani hari-hari ini adalah bakti buat mereka, ayah bundamu. Dan bahagiamu adalah bila mereka bahagia.
Sepanjang jalan kau bernyanyi. Lagu apa saja. Mulai dari balonku ada lima sampai Indonesia raya. Bila kau sudah sangat muak pada ritme hidupmu. saat ditanya kau hanya menggelitik jawab : nasionalis, cinta negeri. Kau sebut itu futur. Sebab kau tahu dirimu lebih suka memurajaah satu dua ayat hafalan Al Qur'an, atau sekedar mendendangkan syair-sair nasyid pelepas lelah.
"Sahabat...duniaku kini tiada ceria. Hilang entah kemana. detik-detik yang kulalui penuh duri..." dan suaramu lenyap bersama angin lantas terlupakan begitu saja. Selanjutnya kau hanya menangis, mengenang lembaran-lembaran indah di masa lalu saat semangat masih membara.
Ya, kau cukup sadar diri. Kau hanya sebatang ranting yang tersembunyi di antara rimbun dedaunan di hutan. Meski citamu masih saja menggelitik langkahmu untuk menggoreskan meski hanya segores titah di pasir pada pantai yang landai, sekedar mengucapkan salam yang indah pada dunia yang haus keramahan.
Setiap kali menatap laut kau berharap bisa arungi luasnya, agar luasnya juga menularkan luas pada jiwamu. Agar meretas ikhlas menyingkap harimu. Agar yang semu pupus saja sudah berganti nyata. Bahwa kau nyata bahagia dengan semua. Kau tergetar saat membahas rukun iman di hadapan anak-anak yang masih buta agama, hujan kian deras menerpa wajahmu. Sudahkah kau juga tuntaskan keimanan, bahwa kau percaya pada Tuhan yang menguasai segala hingga semestinya kau ridha...ridha...dan tak kan membekas aluka apapun pada hatimu saat duri-duri menusuk hati. Bahwa semestinya kau tak perlu kecewa bila takdir kadangkala tak seperti harapmu. Bukankah segalanya adalah kuasaNya.
Laa tahqof walaa tahzan. Kau hapus airmatamu. Mencoba membagi riang pada mereka yang setia menantimu setiap hari meski kadangkala saat kau tiba, pakaiamu berlumur lumpur sebab jalanan becek yang kau lewati. Lupakanlah sejenak mimpimu tuk menapak bagian bumi yang lain yang kau rindukan. Tahukah kau bahwa keberkahanNya tergantung pada kesungguhanmu menggoreskan ikhtiar.
Maka bertahanlah. Setialah bangun sebelum mentari menyapa kokok ayam agar kau bisa bercengkerama denganNya lebih lama hingga kau selalu merasa ada DIA yang setia menemanimu, menjagamu dan menuntunmu. Saat gerimis pagi ini meneteskan bait-bait doa, membumi bersam air, lalu mengangkasa bersama angin. Pintamu buncah dalam lamat-lamat zikir, menyangga harapmu yang patah. Mengeja takdir yang katanya bisa diubah dengan doa. saat keningmu menyentuh sajadah dan jiwa melangit indah. Pada larik-larik gerimis terbaca: Aku memintanya Tuhan. Dhuha terasa indah sekali kali ini dalam nafasmu. Kau lanjutkan melangkah. Apa kabar, hari ini???

Dialog Maya

Harusnya kau tahu,
bahwa yang kau simpan rapi
teramat rapi
tak seorang pun tahu
bahwa ia ada di sana

Tapi tidak dengan-Nya
DIA tahu yang tersembunyi
Kau yang lelap dalam harap
semata harap
yang lantas membuat senyap

Saat DIA jauhkan kembali yang telah dekat
kau tercekat
tersadar kuasa-Nya mampu
membuat segalanya ada
atau meniadakan segala
Lalu...
kau kembali tersungkur sujud
pintamu buncah dalam lamat-lamat zikir

Tuhan...
aku bertanya
masih bolehkah ia meminta sekali lagi
agar jalannya lebih rapi
agar yang tersimpan rapi tak membuatnya menepi

Sebutir Hujan

Dan
riaknya menggerutu dalam diamku
Aku beriak
saat sebutir hujan
mengusik heningku

Piasnya terserak ke tepian,
menyapa pasir yang memagari pantai
Landai...
Luruh lagi dibawa ombak ke lautan
Tak berasa
tenggelam
Lalu hilang
bersama angin,
Terlupakan begitu saja

ia berkata :
sudahlah

Sabtu, 30 Agustus 2008

PERSIMPANGAN

Ternyata tidak mudah untuk memilih akan kemana melangkah bila dihadapkan pada beberapa pilihan. Tapi pilihlah yang pasti benar.
"Shirathal mustaqiem"
Bismillah...
sebab hidup tidak sekedar berupa rangkaian waktu
tapi juga rangkaian zikir yang menjadikan segalanya bernilai indah.
Maka, melangkahlah...pada titianNYA saja

My Favourite Film

  • The Message
  • Vertical Limit
  • Turtle can Fly
  • The Kite Runner
  • The Purshuit of Happynes
  • Ie Grand Voyage
  • Sang Murabby

My Favourite Books

  • Tetralogi Laskar Pelangi
  • A Thousand Splendid Suns
  • The Kite Runner

Acara TV Favourite

  • Akhirnya Datang Juga
  • Wisata Kuliner
  • Cinta Fitri, hehehe
  • e-Lifestyle
  • Padamu Negeri
  • Apa Kabar Indonesia
  • Kick Andy
  • Todays Dialogue
  • The nanny 911

Bagaimana pendapat anda tentang blog ini?