Mencoba memaknai hari-hari

Senin, 11 Februari 2008

SILUET SENJA DI MATA AYAH

Dalam dongeng ayah yang tak cuma dongeng
Ada siluet senja yang menghampirkan harapannya
Selaksa cita terpeta pada tiap helai uban
Membirukan hampa
Merimbun, membelai pipi putra-putra Yakub
Ada seroja samar yang menyamar jadi mawar
Terkenang zikirmu yang mengokohkan langkahku
Mengepalkan jemariku
Lantas terserulah takbir itu “Allahu Akbar”
Sebelas bintang gegap gempita di hatiku
Memecahkan pekat
Mengelupaskan karat yang sekarat
Kusudahi …
Dalam dongeng ayah yang tak cuma dongeng
Ada siluet senja yang menitipkan harapannya
Sehelai doa berbisik pada ke Maha Pemurahan NYA
Menceriakan senja miliknya
Sebelum pulang
Terbentang tanya…
Akankah sisa waktuku mampu menentramkannya?

KUDEDIKASIKAN UNTUK AYAHKU TERCINTA
SEMOGA KERJA KECILKU MENENTRAMKAN HATIMU

CInta...Why Not??

Apa yang anda fikirkan tentang cinta? Kenapa banyak orang menjadi bulan-bulanan cinta, mabuk kepayang dibuatnya? Kenapa pula ada yang antipati terhadap cinta hingga memploklamirkan Serikat Anti Cinta? Sedemikian hebohnya topik cinta hingga sinetron dan film yang bertebaran di layar televisi temanya tidak jauh menyisir dari cinta. Ada pula yang mensakralkan perayaannya pada tanggal 14 Pebruari sebagai hari Valentine (bagi mereka Hari Perayan Cinta) tanpa menelisik ada apa kisah di baliknya. Ada pula yang beranggapan biasa tentang cinta. Ada apa dengan cinta hingga membuat dunia penuh kontroversi karenanya.

Cinta. Apa yang salah dengan cinta? Bukankah cinta adalah fitrah yang diturunkan Allah ke dalam hati hambaNya? Berbekal cinta kita ada, berbekal cinta pula kita berbuat amal kebajikan. Sungguh, tidak ada yang salah dengan cinta ketika kita meletakkan pada tempatnya. Tapi kita jarang sekali bersedia menjadi Trend setter dan lebih suka menjadi pengikut tradisi hingga dengan sukarela menjadi korban mode, korban invansi pemikiran sekaligus korban manipulasi media. Akhirnya cinta dipersalahkan, lalu cinta kembali menjadi topik utama yang dikambing hitamkan.

Allah SWT telah menciptakan kita dengan bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. 95:4) hingga kita merasa nyaman dengan bentuk tubuh kita. Allah juga telah menciptakan bumi yang terhampar, gunung sebagai pasak, langit yang kokoh meski tanpa tiang, manusia yang berpasang-pasangan, tidur untuk istirahat, matahari sebagai penerang (Q.S. 78:6-13). Tiga puluh tiga kali Allah katakan di dalam Q.S. Arrahman bahwa “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Sebuah sindiran keras bagi kita yang terlalu sering melupakan nikmat Allah, mendahulukan makhluk dari pada Khaliq, melalaikan sholat untuk kepentingan-kepentingan yang tidak prinsipil.

Cinta. Mari kita menelusurinya. Ketika Allah menitipkan cinta ke dalam hati manusia, Allah telah menyediakan jalannya untuk menapakkan cinta dengan semestinya. Allah memerintahkan tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa (Q.S. 5:2). Allah menghendaki manusia untuk saling berkasih sayang, saling mengenal, saling memahami dan saling menanggung beban satu sama lain. Tetapi Allah juga memberi garis batas itu semua dengan suatu syariat yang mulia untuk menjadikan kita beradab. Allah menghalalkan perdagangan sebagai suatu bentuk kerja sama dalam bidang Ekonomi, tetapi Allah mengharamkan riba. Ketika Allah memerintahkn kita untuk saling berkasih sayang dan berpasang-pasangan maka dengan itu pula Allah menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina. Betapa penyayangnya Allah, tak membiarkan kita begitu saja tapi mengurus kita semua dengan aturan-aturanNya yang membuat kita mulia. Bukankah ketika kita patuhi perintahNya lalu menjauhi laranganNya, menjadikan kita tenteram karenanya. Sebab kita menjalaninya dengan cinta dan diliputi cintaNya atas kesetiaan kita.

Banyak orang demikian terbatas memahami cinta, semata sebagai perasaan suka kepada lawan jenis yang belum halal bagi kita lalu menumpahkannya khusus untuknya saja lantas mengabaikan sekelilingnya. Betapa sia-sianya padahal kita berlimpahan cinta dan ketika diberikan kepada lebih banyak orang yang membutuhkan, kita menjadi jauh lebih mulia? Ada pula yang kebingungan karena cinta, makan tak enak, tidur tak nyenyak, hidup berantakan karena memikirkan si ‘dia’ hingga melalaikan kewajiban utama padaNya. Bukankah Allah mengatakan bahwa cinta sejati akan mendatangkan perasaan tenteram, tenang dan tumbuh kasih sayang yang tulus (Q.S. 13:28).

Lalu ada yang membuat perayaan spesial pada hari Valentine (bagi mereka hari kasih sayang), saling memberikan hadiah dan mengungkapkan cinta. Rasanya hanya sebuah hal yang basi, bukankah Islam sudah lebih dulu mengenalkan cinta. Islam lebih dahulu mensyariatkan kepada manusia untuk saling memberi hadiah, bersadaqah, berinfak dan berzakat sebagai wujud kasih sayang terhadap manusia. Rasanya tidak masuk akal ketika kita merayakan hari yang bahkan landasan sejarahnya sendiri dipertentangkan oleh orang-orang di kalangan mereka sendiri (sebuah tradisi jahiliah yang merupakan perayaan kematian seorang Pendeta bernama Valentino yang mengizinkan sepasang muda mudi berbuat zina dan diusir oleh masyarakat). Kenapa juga mesti repot-repot menunggu tanggal 14 Pebruari untuk menyatakan cinta? Bukankah di dalam Islam semua hari adalah baik bagi seorang mukmin. Oleh karena itu sampaikanlah ekspresi kasih sayang itu kepada orang-orang yang memang paling berhak mendapatkan itu kapan saja.

Kenapa kita mau menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang bermanfaat? Bukankah salah satu ciri orang yang beriman adalah menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat (Q.S. 23: 3) apalagi bermaksiat. Padahal ketika kita mengisi waktu luang kita dengan hal bermanfaat seperti membaca Al Qur’an, membantu orang tua, membaca buku, mendengarkan pengajian, semua itu jauh lebih menentramkan hati. Cobalah bandingkan dengan mereka yang menghabiskan waktu dengan hura-hura, kebut-kebutan di jalan, mengisi sisa malam dengan ‘dugem’, pesta pora tak tentu arah. Selain mendtngkan keresahan masyarakat juga hanya akan menambah tumpukan dosa yang sudah menggunung banyaknya.

Hidup di dunia hanya sekali ini saja. Banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan selama usia masih melekat. Tidakkah kita takut kematian datang saat kelalaian masih terhidang, dan kita sekarat dalam keadaan tidak siap. Lantas apa yang akan kita pertanggungjawabkan kepadaNya nanti?

Cinta sejati adalah cinta yang dipelihara dengan baik, dirawat dengan kesabaran, dijaga dengan kesetiaan, disampaikan dengan keridhoan, ditempatkan pada tempat yang diperkenankanNya dan dititipkan utuh padaNya. Cinta sejati tak pernah bercampur baur dengan hawa nafsu dan kemunafikan. Cinta sejati tidak berbaur dengan kekerasan. Cinta sejati adalah cahaya yang membuat hidup benderang tak terpadamkan. Mengalir tulus sepanjang nadi hingga menghantarkan kita kepadaNya dengan keadaan terbaik. Maka cinta sejati hanya didapati dengan mencintaiNya sepenuh hati, ridho dengan ketentuanNya, bergantung utuh kepadaNya dan setia dengan aturan-aturanNya.

Allah telah memberikannya kepada kita sebagai bekal hidup di dunia. Mari kita jaga agar kita tidak kehilangan cintaNya.

Selasa, 05 Februari 2008

Kembali kepada Jiwa

Oleh Muhammad Rizqon
Nuansa lesu, kuyu, dan sedih nampak tersurat dari wajah sahabat-sahabat yang baru berdatangan dari medan “pertempuran”. Mereka membawa dan menyerahkan laporan hasil perhitungan suara dari masing-masing arena perhelatan demokrasi kepada koordinator saksi. Mereka menjadi lemas mengetahui hasil perhitungan suara yang ternyata kurang memuaskan. Saya mencoba berempati bahwa mereka telah berupaya dengan segala cara (yang syar’i) melakukan penyadaran, edukasi politik, pencerahan, dan menepis berbagai issu negatif pada hampir semua daerah di mana berlangsung pemungutan suara. Secara logika akal sehat, seharusnya mereka menang mutlak. Tetapi kenapa tidak?
Tuduhan akan kecurangan pihak lawan pun mulai menyeruak. Setelah diinventarisir, mereka mengindikasikan telah terjadi upaya sistematis dari pihak lawan untuk merebut suara yang terbanyak. Sejauh bisa dibuktikan, penyerahkan kepada prosedur hukum yang berlaku adalah langkah positif sebagai bahan pembelajaran politik bagi masyarakat. Namun upaya-upaya tersebut hendaknya tidak menghalangi mereka untuk instrospeksi ke dalam. Karena boleh jadi, sebab terbesar “kekalahan” berada di dalam jiwa mereka masing-masing.
Tiada dipungkiri bahwa pengorbanan yang mereka lakukan untuk menggalang simpati masyarakat memang luar biasa. Rapat intensif yang menguras pikiran, aneka kegiatan yang langsung menyentuh hajat hidup rakyat kecil yang menguras tenaga, pemasangan media kampanye (spanduk, baliho, poster) terjadi hampir setiap malam, kampaye yang melibatkan jumlah massa yang spektakuler, pengorbanan dana dari masing-masing individu yang tidak terhitung, dan lain-lain. Akan tetapi, nampaknya mereka harus belajar untuk bertawakkal, karena tidak semua hasil itu sesuai dengan harapan mereka. Dan ‘tidak sesuai harapan’ itu belum tentu adalah suatu ‘keburukan’. Boleh jadi menyimpan sebuah hikmah kebaikan yang masih terpendam.
***
Sesungguhnya dalam setiap kejadian, selalu terkandung hikmah bagi yang sungguh-sungguh ingin mendapatkannya. Saya sendiri merasa terharu melihat fenomena dan fakta yang terjadi. Di daerah di mana kami jarang menyentuhnya dengan proyek-proyek kebaikan, suara mereka untuk kami cukup besar dan signifikan, sehingga di daerah itu kami memperoleh kemenangan. Namun di daerah di mana kami secara intensif menggulirkan program untuk kebaikan dan kemanfaatan warga, suara mereka untuk kami ternyata kecil, sehingga di daerah itu kami menunai kekalahan.
Saya mengambil sebuah pelajaran, bahwa ternyata, intensitas sentuhan tidak berbanding lurus dengan sebuah dukungan. “Take” tidak selalu sebanding dengan “give” pada lahiriahnya. Tidak selamanya kita berbuat baik kepada orang, orang akan segera membalasnya dengan kebaikan pula. Apa perlu kita bersedih? Nampaknya Ini adalah sebuah ujian keikhlasan. Jika kita begitu larut dengan kesedihan, boleh jadi apa yang kita lakukan adalah pamrih semata. Kita begitu mengharapkan dukungan. Kita begitu mengharap hati mereka condong kepada kita. Padahal yang berkuasa mencondongkan hati dan membolak-balikannya adalah Allah Ya Muqollibal Qulub.
Sering kita tidak menduga, orang yang kita jauhi ternyata merekalah yang bersegera menerima ajakan untuk berbuat kebaikan. Padahal kita merasa jarang bersentuhan. Inilah sebuah pertolongan Allah atas sebuah keikhlasan dan amal baik, yang boleh jadi pernah dilakukan olehsaudarakita yang tidak kita ketahui.
Secara lebih dalam, saya berusaha menunai hikmah dari sebuah fenomena “kekalahan” yang berlaku umum bagi semua penyeru kebaikan di mana pun mereka berada, tanpa memandang organisasi atau partai.
Pertama, upaya mengajak kebaikan itu hendaknya harus dilakukan secara ikhlas, karena boleh jadi keikhlasan inilah yang menghantarkan datangnya pertolongan Allah. Kita boleh jadi terjebak dengan menaruh perhatian lebih besar pada upaya-upaya yang bersifat teknis, tetapi kita justru mengesampingkan upaya-upaya yang menghantarkan datangnya pertolongan Allah. Sebagai contoh, rapat-rapat atau kegiatan yang dilakukan hingga larut malam hingga dini hari, hendaknya tidak menjadikan terlambat dalam menunaikan shalat subuh berjama’ah di masjid. Lebih baik lagi, jika semua agenda itu tidak melalaikan kita dari penunaian shalat malam meski hanya beberapa rakaat saja.
Mengabaikan saat-saat utama bangun seperempat malam terakhir dan menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid, boleh jadi adalah indikasi ketidakikhlasan dalam sebuah perjuangan. Karena kita lebih mementingkan dunia daripada pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya itu. Memang harus ditekankan sejak awal, bahwa apapun upaya-upaya teknis yang dilakukan, tidak boleh berakibat pada penurunan keimanan dan ruhiyah.
Kedua, dakwah fardhiyah kita (ajakan person to person) kepada masyarakat ternyata masih sebatas pada kulitnya dan dengan pamrih, belum menyentuh kepada hati mereka. Masih ada jarak yang memisahkan kita dengan mereka, dan kita belum sepenuhnya memahami bahasa apa yang tepat kita gunakan untuk mereka.
Boleh jadi, mereka sangat ingin disapa, ingin ditegur, dan ingin ditanya kondisi keluarganya. Tetapi kebanyakan dari kita tiada pernah melakukannya. Boleh jadi, bagi mereka para gerombolan tukang ojek, pemberian buah tangan ala kadarnya seperti buah Rambutan atau kue-kue kecil dari kita yang pulang kantor bermobil melewati mereka, mampu menambatkan hati mereka pada jalan dakwah yang kita usung. Tetapi sedikit sekali dari kita yang melakukannya. Kita cuek ketika melewati mereka. Maka, bukan salah mereka jika mereka tidak menaruh simpati kepada kita.
Ketiga, boleh jadi kita hanya memperhatikan orang-orang tertentu yang sudah bersimpati dengan kita dan mengabaikan yang lain. Kita kurang cair dan masih eksklusif. Padahal ajakan dakwah ini ditujukan untuk semua lapisan masyarakat. Kita adalah bagian dari mereka, kita hidup bersama mereka, dan kita berbuat untuk mereka.
Saya teringat pada kisah Rasulullah Saw yang berbaik hati memberikan suapan kepada seorang pengemis Yahudi di sudut pasar Madinah Al-Munawwarah. Beliau melakukannya setiap pagi hingga beliau wafat. Padahal pengemis yang buta itu selalu menyeru kepada orang untuk tidak mendekati Muhammad, karena Muhammad itu orang gila, Muhammad itu pembohong, Muhammad itu tukang sihir, dan apabila orang-orang mendekati beliau, mereka akan dipengaruhi beliau.
Namun Rasulullah Saw mengabaikan semua permusuhannya itu karena boleh jadi pengemis itu tidak tahu hakikat pribadi beliau. Beliau membuktikan ketinggian akhlaknya dengan cara berbuat baik kepada pengemis itu secara langsung, tanpa berkata sepatah kata apapun. Kisah itu berakhir dengan sangat mengharukan. Pengemis yang selalu memusuhi Rasulullah Saw dengan kata-katanya itu akhirnya masuk Islam, setelah mendengar penuturan langsung tentang siapa yang telah berbuat baik selama ini, dari sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq yang berusaha menggantikan tradisi beliau menyuapi pengemis itu setiap pagi.
Kisah ini sudah sangat populer dan banyak sahabat yang mengutipnya sebagai bahan peringatan dan tausiyah. Dan semoga kita mengambil hikmah untuk selalu mencontoh kepada Rasulullah Saw yang memiliki akhlak yang begitu tinggi dan mulia. Bahkan kepada orang-orang yang mendustakan beliau sekalipun.
Keempat, “kekalahan” adalah bagian dari takdir Allah. Kita tidak mengetahui hikmah apa yang terkandung dari sebuah “kekalahan” itu. Harus diyakini bahwa bahwa jika kita telah berupaya dengan koridor yang benar, pada hakikatnya kita tidak menerima kekalahan itu. Selamanya kita adalah pemenang. Karena hakikat kemenangan yang sesungguhnya adalah jika kita tetap beriman dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kekalahan dalam sebuah persaingan saat ini, boleh jadi adalah kebaikan dari Allah karena Allah lebih memahami tentang umat-Nya. Selamanya kita harus menaruh prasangka baik kepada Allah karena Allah adalah pemberi keputusan terbaik dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.
Respon yang bijak dalam menyikapi sebuah “kekalahan” adalah dengan kembali kepada kondisi jiwa. Boleh jadi, ada pencemaran, ada kotoran, dan ada nuansa dunia yang lebih pekat dari nuansa akhirat dalam setiap niat yang berdenting dari jiwa. Beristighfar dan bertaubat akan mengembalikan jiwa kepada kemurniannya. Kita pun harus melakukan introspeksi terhadap apa yang sudah kita niatkan dan lakukan, benarkah semata demi meninggikan kalimat Allah SWT?
Sesungguhnya orang-orang beriman itu selalu menemukan keberuntungan. Dan apa yang menimpa bagi seorang mukmin adalah kebaikan. Maka sebenarnya tiada kata kalah, kerugian, dan keburukan bagi pejuang kebaikan yang benar-benar ikhlas menegakkan kalimat Allah SWT di muka bumi ini.
Waallahua’lam bishshawaab. (rizqon_ak at eramuslim dot com)
Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.
Oleh Penulis yang Sama
Kembali kepada Jiwa
Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Menghibur dan Menenangkan Jiwa
Tahun Baru Bersama Anak Yatim
Teguran untuk Berinfaq
Buka Mata Buka Hati
Biarlah Allah yang Melihatnya
Artikel lainnya (32)Daftar Penulis
Artikel Sebelumnya
Berhati-Hatilah Dalam Berteman, Nak (Sigit Indriyono)
Keutamaan Sedeqah (Dultoha)
Makna Pemberian (Nooviyanti U)
Suporter Agung (Yon's Revolta)
Serempak Dalam Perbedaan (Sus Woyo)
Berlomba Mendulang Pahala! (Dikdik Andhika Ramdhan)
Aisyah Adinda Kita (Dikdik Andhika Ramdhan)
Arsip
Kampus
Webmail
Registrasi Login

-->
-->

PELUANG
Love Qur'an
Cara Cerdas Paham Qur'an Sejak Dini
Hosting & Web Dev.
Dapatkan Free Domain & Free Hostingladangnet.com
Plaza Karir
Informasi Lowongan Kerja TerbaruPlazakarir.com
Rumah Beasiswa Indonesia
Beasiswa S1, S2, S3 Dalam dan Luar Negerirumahbeasiswa.com
Berburu Dollar$ di Internet
Dapatkan penghasilan bulanan dari Google.comwww.topjobsvacancies.com
Launa Wedding
Untuk Sebuah Moment Terindah dalam Hidup Anda
CV Jasatama Mitra Sejati
Pengurusan Izin PT & CV

My Favourite Film

  • The Message
  • Vertical Limit
  • Turtle can Fly
  • The Kite Runner
  • The Purshuit of Happynes
  • Ie Grand Voyage
  • Sang Murabby

My Favourite Books

  • Tetralogi Laskar Pelangi
  • A Thousand Splendid Suns
  • The Kite Runner

Acara TV Favourite

  • Akhirnya Datang Juga
  • Wisata Kuliner
  • Cinta Fitri, hehehe
  • e-Lifestyle
  • Padamu Negeri
  • Apa Kabar Indonesia
  • Kick Andy
  • Todays Dialogue
  • The nanny 911

Bagaimana pendapat anda tentang blog ini?