Mencoba memaknai hari-hari

Rabu, 11 Juni 2008

KETIKA CINTA MENGAJARKAN KEHIDUPAN

(Untuk seseorang saudari yang tengah belajar keras mencintaiNYA, semoga menemukan yang dicari)

Sekali lagi ini sebuah cerita tentang cinta. Tema yang tak pernah kehilangan trend untuk terus dibahas, sebab ia memang menjadi energi kehidupan. Begitu banyak ragamnya cerita itu hingga bila diambil pelajaran darinya tak pernah cukup waktu untuk menampungnya.
Tujuh lembar kertas ukuran A4 berisi tulisan tangan berada di tangan saya sekarang. Luar biasa penulisnya bisa merakit rentetan kalimat-kalimat itu begitu detail menceritakan setiap kejadian yang disimpannya dalam hati tentang seorang manusia yang begitu dikaguminya. Sayangnya kekaguman itu tak berbalas dan mengendap dalam kenangannya. Ia menangis merasakan sesak di dadanya.
“Saya harus bagaimana, Mbak?”
Begitu akhir tulisan itu setelah untai kalimat-kalimat dramatis, puitis, deskriptif bahkan sesekali hiperbolis dituliskannya. Sebut saja namanya Anisa. Saya sempat kebingungan untuk menjelaskan padanya bahwa apa yang dirasakannya itu tidak sepenuhnya benar. Melihat raut wajahnya yang lembut tak kuasa rasanya membentak apalagi mengkalimnya mentah-mentah bahwa ia tak semestinya memiliki perasaan itu karena begitu saya katakan padanya, bisa saya jamin ia akan langsung menangis. Saya hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya sambil mengatakan : SABAR YA. Betapa ingin saya melihatnya lebih tegar saat itu. Betapa ingin saya katakan padanya bahwa kita tidak boleh memelihara cinta atas dasar nafsu.
“Apakah saya salah Mbak” Kembali ia mengulangi pertanyaan itu. Saya masih mencari cara untuk menjelaskan padanya.
“Bukankah saya tidak pacaran dan menyimpan semuanya di hati saya saja”
Menurut anda apa yang harus saya jawab sementara saya melihatnya telah demikian tersiksa. Seperti juga saya, ia juga perempuan. Dan perempuan selalu mengedepankan rasa yang kadang-kadang rasa itu bisa membunuh karakternya jika tidak dimanage dengan benar.
“Anisa sudah siap menikah?” tanya saya, iseng saja sebenarnya.
Ia buru-buru menggeleng.
“Belum..belum Mbak, Nisa belum siap untuk nikah sekarang”,
“Kalau begitu, abaikan saja perasaan itu karena itulah penyakitnya”
Ia mendengus dan berkata sangat lirih “Sulit, Mbak…”
Ini bukan kasus pertama yang saya hadapi ketika anak-anak seumuran SMA itu curhat tentang problematika mereka. Semua kasus selalu berbeda sebagaimana tipikal kepribadian anak-anak itu juga berbeda. Terkadang bercerita tentang jelous-jelousan seputar pershabatan mereka. Terkadang soal iri-irian dalam prestasi belajar. Dan saya memperlakukan mereka semua dengan cra yang berbeda-beda. Ada yang harus diperlakukan dengan penuh kemanjaan, ada yang harus diperlakukan dengan pembiaran, ada juga yang harus selalu diperhatikan, ada yang harus dipercayai dan diberi tangggung jawab, ada yang harus sering-sering dipuji. Satu hal yang menjadi teramat berarti bagi saya adalah bahwa begitu banyak yang bisa saya pelajari dari mereka ketika kelak saya menjadi Ibu yang sesungguhnya. Dan sebagaimana Ibu-ibu yang lain, saya pun menginginkan mereka tumbuh menjadi perempuan-perempuan sholehah yang tegar, teguh, lembut namun tegas. Mereka yang bisa mengabdikan potensi-potensi mereka pada jalan yang diridhoiNya. Dan tentunya…harapan ini tidaklah sekedar mengemuka. Harus saya upayakan, saya perjuangkan. Maka begitulah pembinaan itu tetap saya pertahankan, merapikan langkah-langkah mereka saat mulai keluar jalur, menyangga mereka saat lemah…sampai suatu saat nanti mereka harus bisa berdiri sendiri dan berjalan dengan benar. Alasannya satu saja, sebab saya mencintai mereka karena Allah…karena mereka adalah saudara-saudara saya.
Maka kasus yang kali ini pun teramat berarti bagi saya. Saya melihat Anisa sedang tumbuh belajar memahami kehidupan ini dengan cinta. Ia sudah memiliki cinta, hanya saja belum ditempatkannya pada tempat yang proporsional. Makanya ketika cinta itu tak berbalas, ia menjadi kecewa, patah hati dan terluka. Padahal seharusnya cinta yang sejati tidak akan membuahkan luka. Kenapa? Anda boleh saja tidak setuju dengan saya, tapi saya memiliki alasan untuk memelihara cinta. Bagi saya, cinta itu bukanlah mendapatkan apa yang kita harapkan, bukan pula bisa hidup bersama yang kita harapkan sebab harapan semacam itu terlalu sempit. Cinta yang seperti itu mudah kandas, terlalu dangkal. Kenapa dangkal? Karena sandarannya tidak kokoh. Jika sandarannya lepas maka ia pun tenggelam atau hanyut.
Bagi saya… cinta itu sangat kaya makna dan ia akan membuat kita kaya. Karena cinta itu memiliki sandaran yang kokoh dan memiliki sumber yang tak pernah habis. Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, ibarat ibadah hati yang paling hakiki: Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai. Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, Maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder. Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah.
Dan Anisa pun kembali bertanya pada saya.
“Apakah saya salah, Mbak kalau saya jatuh cinta padanya? Bukankah tidak sepenuhnya salah saya? Ia yang menebar rasa itu, membuat saya berharap. Tapi nyatanya ia tidak jatuh cinta pada saya”,
Sesungguhnya saya geram sekali melihatnya. Lelaki yang dikaguminya itu sama sekali sebenarnya tidak menaruh rasa padanya. Hanya saja ia memang simpatik, siapa pun mengakuinya. Dan Anisa kebablasan memaknainya sebagai bentuk lain dari perhatian. Adikku… jangan biarkan rasa itu menggelayuti hatimu sebab belum saatnya ada. Saya mencoba diplomatis mengatakan padanya:
“Mbak punya pendapat yang berbeda denganmu, Sa. Mbak pernah membaca sebuah kalimat bijak yang mengatakan bahwa sesuatu yang benar tapi tidak ada di hati, itu namanya kebohongan. Sebaliknya sesuatu yang salah tetapi ada di hati itu disebut kesalahan. Mbak rasa kamu sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang ada di hatimu karena kamu pun sudah tahu bahwa yang ada di hatimu bukanlah kebenaran. Sebab jika benar dia tidak akan meninggalkan luka seperti yang kau rasakan saat ini”.
Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.
Kasus ini belum tuntas. Saya masih mendapati Anisa murung. Satu hal lagi pelajaran buat saya, ternyata tidak semua hal bisa saya atasi sendiri.
“Tilawah yuk, Sa”
Saya letakkan Al-Qur’an di tangannya.
“Kalau Mbak ternyata tidak bisa meringankan bebanmu, Mbak yakin Allah punya cara sendiri untuk membuatmu bahagia asal kita menyerahkan segala urusan kepadaNya. Mulailah dengan ini dan perbanyaklah membacanya”
Entahlah,saya pun masih terus dan sedang belajar, belajar tentang banyak hal...terlalu banyak yang belum saya pelajari. sebab hidup adalah pembelajaran. Ketika pembelajaran itu telah selesai...saya rasa ajal pun akan datang. Allahualam bishowab.(Rieve)

Jumat, 06 Juni 2008

Be The Winner

(Sebuah Ulasan untuk FoPMII : Forum Pelajar dan Mahasiswa Islam Indragiri Hilir)
Ada yang menarik ketika kita memperhatikan sebuah bola yang menggelinding. Jika FoPMII diibaratkan seperti bola yang dapat bergerak menggelinding, syarat agar bisa menggelinding adalah adanya permukaan yang kasar. Jika permukaan licin, bola akan selip atau tidak bisa menggelinding. Permukaan yang kasar itu diibaratkan seperti tantangan yang harus dipecahkan. Kita bekerja karena di depan kita banyak tantangan. Jika tidak ada tantangan, maka kita tidak bisa bekerja (baca : berdakwah).
Dan terbacalah tantangan itu di hadapan kita kini, di mana beribu orang terutama pelajar dan mahasiswa adalah ladang dakwah yang belum sepenuhnya digarap. Begitu banyak informasi yang belum tersampaikan, begitu banyak potensi yang masih mandul, begitu banyak waktu yang masih tersia-sia dan begitu banyak peluang yang terabaikan. Harapan bersama kita, setiap lini kehidupan berjalan sesuai dengan nilai ilahiyyah. Maka tidak ada jalan lain; kita memang harus menyentuhnya. FoPMII sebagai salah satu wajihah dakwah di Indragiri Hilir memiliki peran besar. Peran besar itu sendiri mesti tercelup dalam pengelolaan yang ihsan. Tidak semata diberi nama lalu dilupakan, tapi digarap dan digarap. Penataan, perbaikan, pergeralkan merupakan perputaran yang tidak ada henti dalam dinamika sebuah organisasi semisal FoPMII. Energinya harus dihidupkan terus menerus dan diperbanyak lapisannya agar tetap kokoh.
Mari sejenak kita beranalogi lagi. Dari olahraga kita tahu, jalan kaki membutuhkan energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan lari perlahan. Tentunya lari sprint membutuhkan energi yang paling besar. Jika ada lomba maraton, tentunya awalnya pelari maraton biasanya berlari perlahan-lahan tetapi konstan, semakin lama semakin cepat, dan menjelang finish akan lari sprint. Tidak ada ceritanya, pelari maraton hanya berjalan kaki saja (agar tenaganya hemat), atau sejak start langsung sprint. Dakwah menuju sasaran besarnya tidak lain merupakan lari maraton. Karena itu sejak awal harus mengirit nafas agar bisa sampai finish. Ust Fathi Yakan mengatakan "Siyasatun nafsi ath-thawil" atau siasat nafas panjang. Finish dakwah kita tidak berhenti pada angka tahunan tertentu. Umur dakwah tidak bisa disamakan dengan umur manusia. Karena itu orang-orang yang tidak sabar untuk lari sprint misalnya segera memproklamirkan syariat islam secara prematur akan lebih dulu tumbang. Padahal kaidah mengatakan "likulli marhalatin thabi'atuha", setiap fase ada tabiatnya. Maka kesabaran merupakan tabiat dakwah ini dalam melalui semua rintangannya, untuk tidak berhenti dan terhenti.
Memahami bahwa yang kita bawa bukanlah persoalan sepele melainkan membawa misi besar untuk menegakkan kalimatullah di muka bumi menghendaki kita untuk berperan sepenuh jiwa dan raga. Peran itulah yang kemudian kita sebut sebagai kepahaman, keikhlasan, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, keteguhan, kejernihan pemikiran, persaudaran dan kepercayaan. Tanpa pilar-pilar itu perjalanan kita menjadi perjalanan yang timpang bahkan kandas. Dan mereka yang tidak memiliki pilar-pilar tersebut akan berguguran dengan sendirinya.
Kita tentu menghendaki sayap-sayap dakwah kita semakin melebar dan kokoh. Karenanya semestinya kita sadar akan peta pertarungan yang sedang berlangsung. Inilah pertarungan abadi. Pertarungan yang melahirkan pertarungan. Sistem ideologi melahirkan kebiasaan lalu karakter. Bertarung pada sistemnya, bertarung pada karakternya. Maka hanya kualitas pemahaman yang lahir dari proses pembinaan yang matang yang akan menang. Banyak orang yang kalah oleh jabatan, kekayaan dan kefanaan yang menipu. Tetapi selama ini pembinaan selalu membuktikan diri mampu menjadi benteng kesadaran untuk bertahan. Selalu menjadi sumber semangat yang tidak pernah melemah. Maka kita perlu khawatir pada komitmen dan kesadaran kita dalam pembinaan diri dan tarbiyah, karena dari sanalah sumber pemahaman yang melahirkan kekuatan iman dan pengetahuan, melahirkan keberanian dan semangat untuk berkorban yang dengannya kita menghadapi pertarungan jaman.
Asy-Syahid Sayyid Qutb mengatakan bahwa seiring bertambahnya zaman dan manusia pada setiap waktu, hanya ada satu sistem, satu jalan yang sukses yaitu sistem yang menggambarkan rambu-rambunya dalam surat Al-Ashr. Semua sistem itu akan hancur, lenyap dan musnah. Demi masa. Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal shalih dan saling menasihati dalam kesabaran dan yang hak. Sistem itulah yang dihasilkan dan diperjuangkan oleh pembinan yang berkesinambungan.
Begitulah pembinaan melahirkan karakter pemenang. Dan setiap pemenang biasanya akan menjadi trend setter yang gayanya diikuti oleh banyak kalangan. Makanya, dakwah adalah keniscayaan yang keren banget. Betapa tidak, menjadi pemenang di hadapan Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman. Apalagi yang lebih keren dari itu? Dan setelahnya kita bisa berkata dengan bangga, “I am the winner” Saat ditanya bagaimana bisa? Kita menjawab “Saya ngaji, gitu lhoh!!!”. (Rieve)

Kamis, 05 Juni 2008

PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU

Tuhanku, Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu… Lembar demi lembar kitab kupelajari… Untai demi untai kata para ustadz kuresapi… Tentang cinta para nabi Tentang kasih para sahabat Tentang mahabbah para sufi Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…
Tapi Rabbii, Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu… Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi… Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu… Aku makin merasakan gelisahku membadai… Dalam cita yang mengawang Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi… Hingga aku terhempas dalam jurang Dan kegelapan…
Wahai Ilahi, Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu… Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali Menatap, memohon dan menghibaMu: Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii, Perkenankanlah aku mencintaiMu, Semampuku Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii Perkenankanlah aku mencintaiMu Sebisaku Dengan segala kelemahanku
Ilaahi, Aku tak sanggup mencintaiMu Dengan kesabaran menanggung derita Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa Karena itu izinkan aku mencintaiMu Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu Atas derita batin dan jasadku Atas sakit dan ketakutanku
Rabbii, Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.
Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Robbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku.
Yaa, Maha Rahmaan, Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Rahiim Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.
Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta.
Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

My Favourite Film

  • The Message
  • Vertical Limit
  • Turtle can Fly
  • The Kite Runner
  • The Purshuit of Happynes
  • Ie Grand Voyage
  • Sang Murabby

My Favourite Books

  • Tetralogi Laskar Pelangi
  • A Thousand Splendid Suns
  • The Kite Runner

Acara TV Favourite

  • Akhirnya Datang Juga
  • Wisata Kuliner
  • Cinta Fitri, hehehe
  • e-Lifestyle
  • Padamu Negeri
  • Apa Kabar Indonesia
  • Kick Andy
  • Todays Dialogue
  • The nanny 911

Bagaimana pendapat anda tentang blog ini?