Oleh Muhammad Rizqon
Nuansa lesu, kuyu, dan sedih nampak tersurat dari wajah sahabat-sahabat yang baru berdatangan dari medan “pertempuran”. Mereka membawa dan menyerahkan laporan hasil perhitungan suara dari masing-masing arena perhelatan demokrasi kepada koordinator saksi. Mereka menjadi lemas mengetahui hasil perhitungan suara yang ternyata kurang memuaskan. Saya mencoba berempati bahwa mereka telah berupaya dengan segala cara (yang syar’i) melakukan penyadaran, edukasi politik, pencerahan, dan menepis berbagai issu negatif pada hampir semua daerah di mana berlangsung pemungutan suara. Secara logika akal sehat, seharusnya mereka menang mutlak. Tetapi kenapa tidak?
Tuduhan akan kecurangan pihak lawan pun mulai menyeruak. Setelah diinventarisir, mereka mengindikasikan telah terjadi upaya sistematis dari pihak lawan untuk merebut suara yang terbanyak. Sejauh bisa dibuktikan, penyerahkan kepada prosedur hukum yang berlaku adalah langkah positif sebagai bahan pembelajaran politik bagi masyarakat. Namun upaya-upaya tersebut hendaknya tidak menghalangi mereka untuk instrospeksi ke dalam. Karena boleh jadi, sebab terbesar “kekalahan” berada di dalam jiwa mereka masing-masing.
Tiada dipungkiri bahwa pengorbanan yang mereka lakukan untuk menggalang simpati masyarakat memang luar biasa. Rapat intensif yang menguras pikiran, aneka kegiatan yang langsung menyentuh hajat hidup rakyat kecil yang menguras tenaga, pemasangan media kampanye (spanduk, baliho, poster) terjadi hampir setiap malam, kampaye yang melibatkan jumlah massa yang spektakuler, pengorbanan dana dari masing-masing individu yang tidak terhitung, dan lain-lain. Akan tetapi, nampaknya mereka harus belajar untuk bertawakkal, karena tidak semua hasil itu sesuai dengan harapan mereka. Dan ‘tidak sesuai harapan’ itu belum tentu adalah suatu ‘keburukan’. Boleh jadi menyimpan sebuah hikmah kebaikan yang masih terpendam.
***
Sesungguhnya dalam setiap kejadian, selalu terkandung hikmah bagi yang sungguh-sungguh ingin mendapatkannya. Saya sendiri merasa terharu melihat fenomena dan fakta yang terjadi. Di daerah di mana kami jarang menyentuhnya dengan proyek-proyek kebaikan, suara mereka untuk kami cukup besar dan signifikan, sehingga di daerah itu kami memperoleh kemenangan. Namun di daerah di mana kami secara intensif menggulirkan program untuk kebaikan dan kemanfaatan warga, suara mereka untuk kami ternyata kecil, sehingga di daerah itu kami menunai kekalahan.
Saya mengambil sebuah pelajaran, bahwa ternyata, intensitas sentuhan tidak berbanding lurus dengan sebuah dukungan. “Take” tidak selalu sebanding dengan “give” pada lahiriahnya. Tidak selamanya kita berbuat baik kepada orang, orang akan segera membalasnya dengan kebaikan pula. Apa perlu kita bersedih? Nampaknya Ini adalah sebuah ujian keikhlasan. Jika kita begitu larut dengan kesedihan, boleh jadi apa yang kita lakukan adalah pamrih semata. Kita begitu mengharapkan dukungan. Kita begitu mengharap hati mereka condong kepada kita. Padahal yang berkuasa mencondongkan hati dan membolak-balikannya adalah Allah Ya Muqollibal Qulub.
Sering kita tidak menduga, orang yang kita jauhi ternyata merekalah yang bersegera menerima ajakan untuk berbuat kebaikan. Padahal kita merasa jarang bersentuhan. Inilah sebuah pertolongan Allah atas sebuah keikhlasan dan amal baik, yang boleh jadi pernah dilakukan olehsaudarakita yang tidak kita ketahui.
Secara lebih dalam, saya berusaha menunai hikmah dari sebuah fenomena “kekalahan” yang berlaku umum bagi semua penyeru kebaikan di mana pun mereka berada, tanpa memandang organisasi atau partai.
Pertama, upaya mengajak kebaikan itu hendaknya harus dilakukan secara ikhlas, karena boleh jadi keikhlasan inilah yang menghantarkan datangnya pertolongan Allah. Kita boleh jadi terjebak dengan menaruh perhatian lebih besar pada upaya-upaya yang bersifat teknis, tetapi kita justru mengesampingkan upaya-upaya yang menghantarkan datangnya pertolongan Allah. Sebagai contoh, rapat-rapat atau kegiatan yang dilakukan hingga larut malam hingga dini hari, hendaknya tidak menjadikan terlambat dalam menunaikan shalat subuh berjama’ah di masjid. Lebih baik lagi, jika semua agenda itu tidak melalaikan kita dari penunaian shalat malam meski hanya beberapa rakaat saja.
Mengabaikan saat-saat utama bangun seperempat malam terakhir dan menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid, boleh jadi adalah indikasi ketidakikhlasan dalam sebuah perjuangan. Karena kita lebih mementingkan dunia daripada pahala yang lebih baik dari dunia dan seisinya itu. Memang harus ditekankan sejak awal, bahwa apapun upaya-upaya teknis yang dilakukan, tidak boleh berakibat pada penurunan keimanan dan ruhiyah.
Kedua, dakwah fardhiyah kita (ajakan person to person) kepada masyarakat ternyata masih sebatas pada kulitnya dan dengan pamrih, belum menyentuh kepada hati mereka. Masih ada jarak yang memisahkan kita dengan mereka, dan kita belum sepenuhnya memahami bahasa apa yang tepat kita gunakan untuk mereka.
Boleh jadi, mereka sangat ingin disapa, ingin ditegur, dan ingin ditanya kondisi keluarganya. Tetapi kebanyakan dari kita tiada pernah melakukannya. Boleh jadi, bagi mereka para gerombolan tukang ojek, pemberian buah tangan ala kadarnya seperti buah Rambutan atau kue-kue kecil dari kita yang pulang kantor bermobil melewati mereka, mampu menambatkan hati mereka pada jalan dakwah yang kita usung. Tetapi sedikit sekali dari kita yang melakukannya. Kita cuek ketika melewati mereka. Maka, bukan salah mereka jika mereka tidak menaruh simpati kepada kita.
Ketiga, boleh jadi kita hanya memperhatikan orang-orang tertentu yang sudah bersimpati dengan kita dan mengabaikan yang lain. Kita kurang cair dan masih eksklusif. Padahal ajakan dakwah ini ditujukan untuk semua lapisan masyarakat. Kita adalah bagian dari mereka, kita hidup bersama mereka, dan kita berbuat untuk mereka.
Saya teringat pada kisah Rasulullah Saw yang berbaik hati memberikan suapan kepada seorang pengemis Yahudi di sudut pasar Madinah Al-Munawwarah. Beliau melakukannya setiap pagi hingga beliau wafat. Padahal pengemis yang buta itu selalu menyeru kepada orang untuk tidak mendekati Muhammad, karena Muhammad itu orang gila, Muhammad itu pembohong, Muhammad itu tukang sihir, dan apabila orang-orang mendekati beliau, mereka akan dipengaruhi beliau.
Namun Rasulullah Saw mengabaikan semua permusuhannya itu karena boleh jadi pengemis itu tidak tahu hakikat pribadi beliau. Beliau membuktikan ketinggian akhlaknya dengan cara berbuat baik kepada pengemis itu secara langsung, tanpa berkata sepatah kata apapun. Kisah itu berakhir dengan sangat mengharukan. Pengemis yang selalu memusuhi Rasulullah Saw dengan kata-katanya itu akhirnya masuk Islam, setelah mendengar penuturan langsung tentang siapa yang telah berbuat baik selama ini, dari sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq yang berusaha menggantikan tradisi beliau menyuapi pengemis itu setiap pagi.
Kisah ini sudah sangat populer dan banyak sahabat yang mengutipnya sebagai bahan peringatan dan tausiyah. Dan semoga kita mengambil hikmah untuk selalu mencontoh kepada Rasulullah Saw yang memiliki akhlak yang begitu tinggi dan mulia. Bahkan kepada orang-orang yang mendustakan beliau sekalipun.
Keempat, “kekalahan” adalah bagian dari takdir Allah. Kita tidak mengetahui hikmah apa yang terkandung dari sebuah “kekalahan” itu. Harus diyakini bahwa bahwa jika kita telah berupaya dengan koridor yang benar, pada hakikatnya kita tidak menerima kekalahan itu. Selamanya kita adalah pemenang. Karena hakikat kemenangan yang sesungguhnya adalah jika kita tetap beriman dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kekalahan dalam sebuah persaingan saat ini, boleh jadi adalah kebaikan dari Allah karena Allah lebih memahami tentang umat-Nya. Selamanya kita harus menaruh prasangka baik kepada Allah karena Allah adalah pemberi keputusan terbaik dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya.
Respon yang bijak dalam menyikapi sebuah “kekalahan” adalah dengan kembali kepada kondisi jiwa. Boleh jadi, ada pencemaran, ada kotoran, dan ada nuansa dunia yang lebih pekat dari nuansa akhirat dalam setiap niat yang berdenting dari jiwa. Beristighfar dan bertaubat akan mengembalikan jiwa kepada kemurniannya. Kita pun harus melakukan introspeksi terhadap apa yang sudah kita niatkan dan lakukan, benarkah semata demi meninggikan kalimat Allah SWT?
Sesungguhnya orang-orang beriman itu selalu menemukan keberuntungan. Dan apa yang menimpa bagi seorang mukmin adalah kebaikan. Maka sebenarnya tiada kata kalah, kerugian, dan keburukan bagi pejuang kebaikan yang benar-benar ikhlas menegakkan kalimat Allah SWT di muka bumi ini.
Waallahua’lam bishshawaab. (rizqon_ak at eramuslim dot com)
Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Oase Iman. Kirimkan artikel anda melalui FORM yang kami sediakan.
Oleh Penulis yang Sama
Kembali kepada Jiwa
Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Menghibur dan Menenangkan Jiwa
Tahun Baru Bersama Anak Yatim
Teguran untuk Berinfaq
Buka Mata Buka Hati
Biarlah Allah yang Melihatnya
Artikel lainnya (32)Daftar Penulis
Artikel Sebelumnya
Berhati-Hatilah Dalam Berteman, Nak (Sigit Indriyono)
Keutamaan Sedeqah (Dultoha)
Makna Pemberian (Nooviyanti U)
Suporter Agung (Yon's Revolta)
Serempak Dalam Perbedaan (Sus Woyo)
Berlomba Mendulang Pahala! (Dikdik Andhika Ramdhan)
Aisyah Adinda Kita (Dikdik Andhika Ramdhan)
Arsip
Kampus
Webmail
Registrasi Login
-->
-->
PELUANG
Love Qur'an
Cara Cerdas Paham Qur'an Sejak Dini
Hosting & Web Dev.
Dapatkan Free Domain & Free Hostingladangnet.com
Plaza Karir
Informasi Lowongan Kerja TerbaruPlazakarir.com
Rumah Beasiswa Indonesia
Beasiswa S1, S2, S3 Dalam dan Luar Negerirumahbeasiswa.com
Berburu Dollar$ di Internet
Dapatkan penghasilan bulanan dari Google.comwww.topjobsvacancies.com
Launa Wedding
Untuk Sebuah Moment Terindah dalam Hidup Anda
CV Jasatama Mitra Sejati
Pengurusan Izin PT & CV
Mencoba memaknai hari-hari
Selasa, 05 Februari 2008
Kembali kepada Jiwa
Jumat, 01 Februari 2008
Just Because of YOU
Betapa kemusliman kita adalah sebuah karunia yang tidak ternilai harganya. Dengan kemusliman itu…kasih sayang Allah melimpah ruah tanpa henti. Semakin kita syukuri, dan semakin kita renungi, maka karunia Allah akan semakin bertambah. Kasih sayang-Nya pun semakin menjadi-jadi, mengalahkan apa saja yang ada di bumi. Mengalahkan apa saja yang membungakan hati. Dan di antara kasih sayang-Nya itu adalah ketika Allah jadikan Ramadhan sebagai salah satu bulan istimewa yang membukakan pintu-pintu surga, dimana kita bisa masuk dari salah satu pintu atau bahkan dari semua pintu tatkala kita berhasil menjadi pemenang pada bulan ini.
Satu hal yang kerap kali terlupakan adalah…ketika kita terlalaikan untuk menghadap-Nya dengan utuh. Kalau kita cermati dengan jujur, kemalasan yang kadang timbul, atau melemahnya iman kita adalah karena kita salah meletakkan arah tujuan kita. Kita kehilangan peta. Kita lupa jalan hidup, alias kita melakukan aktivitas amal ibadah kita ‘not just because of YOU’ but maybe…’just because of you (you disini bisa macam-macam maknanya, tergantung faktor pemicunya, bisa jadi you-nya adalah si handsome or si beautiful, bisa jadi you-nya adalah ketenaran, bisa jadi juga keegoisan). Masya Allah…lagi-lagi pembahasannya terkait keikhlasan. Semestinya tidak ada satu penyebab pun yang membuat kita berada di jalan dakwah ini kecuali ALLAH. Hingga mulai dari kita meniatkan sesuatu, kemudian menjaga kemurnian niat itu dalam perjalanannya hingga pada akhirnya tercapainya niatan itu, bukan karena apa-apa dan bukan pula karena siapa-siapa, bukan bergantung pada kondisi apapun atau atas perintah siapapun, bukan terpengaruh oleh ajakan si anu atau ada si anu dalam barisan kita…melainkan ‘just because of YOU”.
Sederhana saja. Tapi bakal menjadi ledakan yang luar biasa hebatnya tatkala kita menyandarkan segalanya kepada ALLAH SWT. Seperti yang difirmankan ALLAH dalam QS. Al Ikhlas ayat 1-4 “Katakanlah, Allah Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak seorangpun yang serupa dengan-Nya”. Tidak akan ada satu hal pun di dunia ini yang mampu mengalahkan ALLAH. Persoalannya adalah apakah kita BENAR-BENAR telah mempercayai-NYA sebagai tempat bergantung, tempat bersandar, tempat meminta, tempat mengadu, tempat utama tuk disembah dan dituju?
Salah satu indikasi kesempurnaan iman seseorang adalah ‘istiqomah’. Dan Istiqomah tidak akan pernah teraih tanpa kebergantungan yang utuh pada-Nya. Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya ‘Illah’…hingga tidak ada satu goncangan apa pun yang mampu menyurutkan langkah. Tidak ‘perkataan makhluk’, tidak ‘fitnah’ tidak ‘caci maki’ tidak pula ‘keletihan, luka dan air mata’ yang mampu memutuskan tali kebergantungan kepada Allah. So…siapkah kita menyerahkan seluruh diri, cinta dan hati hanya pada-Nya??? Selanjutnya mempercayai-Nya sebagai YANG MAHA ESA??? Yang selalu kta taati dan tidak pernah kita duakan dalam bentuk apa pun??? (Rieve)
SUDAH SAATNYA MERDEKA
Dalam deras pertanyaan yang terus menghujam saat menuliskan kalimat-kalimat ini, saya mencoba untuk mengembalikan segalanya kepada Sang Pemilik Jawaban yang senantiasa menjawab dengan sempurna tak semata pertanyaan, tetapi juga kegamangan, kerisauan, keragu-raguan dan ketidaktentraman dengan jawaban indah, “Dan katakanlah, “Ya Tuhan ku, berilah ampun dan berilah rahmat, dan engkau adalah pemberi rahmatyang baik”, (QS. Al-Mukminun: 118)
Setiap manusia, setiap saat senantiasa menambah deretan waktu serupa angka yang menandakan pertambahan usianya sekaligus mengurangi jatah kehidupannya. Rangkaian waktu yang semestinya menambah kedewasaannya. Tapi soal makna kemerdekaan yang diserap, belum tentu sebanyak usianya itu. Orang yang memiliki usia lebih tua belum tentu memiliki kepahaman yang lebih dalam akan makna kehormatan diri, kebebasan yang diberikan Allah sejak kita dilahirkan ke dunia ini sebagai bentuk karunia sang Pencipta. Meski sebagai manusia terpelajar kita mengetahui bahwa daya akal dan nalar kita ada, tetapi seringkali kita terperangkap fenomena duniawai yang memerangkap kita.
Betapa banyak di antara kita kerap kali terpedaya dengan suguhan media yang mengkebiri fitrah manusiawi sebagai hamba Allah yang hanif. Terpedaya oleh pemikiran sekuler yang berbaju agamis. Terpedaya oleh hawa nafsu yang mengaburkan segenap pemahaman, hingga hijab-Nya tak kunjung tersingkap. Senantiasa bertambah tebal karena deretan keluh, segudang alasan dan keengganan memproses diri menjadi lebih baik dengan azam kesungguhan yang utuh tak berpoles kata dan tak berlapis kemolekan diri hingga tega menghujani saudaranya yang lain dengan kealfaan demi kealfaan diri.
Cobalah tanyakan pada setiap orang yang kita temui tentang apa arti kemerdekaan? Atau lebih sederhana lagi apakah kita sudah merdeka? Beragam jawabannya. Meski 61 tahun yang lalu kita telah memproklamirkan kemerdekaan negeri ini, tapi ternyata kemerdekaan hakiki tak kunjung kita miliki. Kemiskinan yang merebak di mana-mana, ditambah dengan banyaknya bencana alam yang menambah angka kemiskinan itu, toh selama ini hanya kita maknai dengan pernyataan, “Negeri kita tengah dilanda bencana sebagai ujian dari Allah”. Mengapa tak kita lanjutkan pemaknaan itu dengan mengkaji bencana-bencana itu lebih arif, semisal bertanya pada diri sendiri, “mengapa bencana itu tak membuat diri tersadar akan keMahaKuasaan Allah?”.
Saudaraku, mari beranjak dari ketekungkungan ini dengan memerdekakan diri sendiri dengan benar untuk selanjutnya kita sampaikan pada orang-orang di sekitar kita. Bahwa seperti kata Ali Bin Abu Thalib Radiyallahu’anh, “Barangsiapa yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka ia bebas dan merdeka”. Hawa nafsu adalah adalah penjara dengan belenggunya yang berselimut kebebasan, karena ia tak pernah membimbing kita kepada kebaikan, melainkan keterkungkungan yang berakhir pada kehancuran.
Kemerdekaan bukan berarti pula merasa bahwa kita lah yang paling baik lantas mendominasi semua orang, yang selanjutnya justru membuat kita tak menghargai “teriakan” orang lain kepada kita agar kita sedikit membatasi gerak yang kadang kelewat batas. Mentang-mentang kita memiliki kelebihan di banyak bidang, kita lantas mengabaikan pendapat orang-orang yang juga ingin mencicipi indahnya beramal. Karena itu, menghargai perbedaan dan bertoleransi kepada orang adalah penghargaan kita kepada kemerdekaan itu sendiri supaya kita dapat hidup sebagai saudara.
Kemerdekaan adalah juga membangun masyarakat dan melawan kejumudan. Hal ini dicontohkan Rasulullah dalam kepemimpinan beliau yang mampu menciptakan iklim kebebasn di mana seluruh masyarakat bebas untuk berbicara, tidak ada perbedaan antara orang lemah dan kuat di mata hukum dan segala diskriminasi lain. Berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah dengan bahasa yang santun adalah aplikasinya yang kemudian terekspresikan dalam akhlakul karimah yang memukau. Tentunya tak berparas kemunafikan diri melainkan berbalut keikhlasan hakiki.
Kemerdekaan adalah juga memahami batas-batas perilaku. Manusia yang berakal semestinya tidak pernah mengimpikan kebebasan mutlak tanpa batas dan tanpa ikatan karena kebebasan mutlak itu hanya ada di akhirat, bukan di dunia. Kalau kemerdekaan dan kebebasan hanya sekedar dimaknai dengan bebas berekspresi “umbar aurat” (maaf) dengan alasan seni, maka sebenarnya ia tengah merendahkan diri sendiri di tengah balutan intelektualitas dan peradaban modern. Ketika kita mampu mengenal batas-batas perilaku dan mampu mengendalikan diri untuk mematuhi batasan-batasan itu maka tercermin bahwa kita adalah manusia yang mengerti atturan hidup, berilmu, berperadaban dan pantas hidup di zaman yang berteknologi maju, bukan di zaman batu yang seba gelap, penuh intimidasi dan kebobrokan moral.
Maka, kebebasan adalah juga berarti Berprestasi sebanyak-banyaknya di hadapan Allah saja. Tanyakan pada diri sendiri, mengapa kita terperangkap pada keinginan menderu untuk mengikuti trend, mode, figuritas, dan takut dituduh ketinggalan zaman. Mengapa tak coba kita paparkan bahwa sesungguhnya Allah telah memerdekakan diri kita untuk menjadi pribadi mulia dengan amalan-amalan terbaik kita? Begitu banyak potensi yang dititipkan pada diri kita, setiap kita memiliki potensi yang berbeda dengan keunggulan masing-masing. Tetapi begitu dangkal kesyukuran kita. Sekedar berujar pada bibir tanpa penghayatan apalagi perwujudan berupa prestasi iman di hadapan-Nya. Sesungguhnya pada apa pun posisi kita, akan bisa mehairkan prestasi terbaik dengan berperan maksimal. Mencurahkan segenap pikiran, hati dan tenaga dengan hanya mengharapkan keridhoan-Nya.
Saudaraku…betapa masih banyak makna kemerdekaan itu yang semuanya hanya kan melafazkan puji-pujian untuk Allah tatkala kita renungi keindahannya. Tetapi semua itu hanya jika kita memiliki pandangan yang baik dan benar pada agama Allah ini, mengikuti aturan dan petunjuk-Nya yang lurus. Semoga tertiti “sirathal mustaqiem” dengan kemudahan da keindahan melaluinya hingga pantaslah kita menjejak jannah-Nya. Sebab “janji Allah nyata dan pasti”. (FH)
Setiap manusia, setiap saat senantiasa menambah deretan waktu serupa angka yang menandakan pertambahan usianya sekaligus mengurangi jatah kehidupannya. Rangkaian waktu yang semestinya menambah kedewasaannya. Tapi soal makna kemerdekaan yang diserap, belum tentu sebanyak usianya itu. Orang yang memiliki usia lebih tua belum tentu memiliki kepahaman yang lebih dalam akan makna kehormatan diri, kebebasan yang diberikan Allah sejak kita dilahirkan ke dunia ini sebagai bentuk karunia sang Pencipta. Meski sebagai manusia terpelajar kita mengetahui bahwa daya akal dan nalar kita ada, tetapi seringkali kita terperangkap fenomena duniawai yang memerangkap kita.
Betapa banyak di antara kita kerap kali terpedaya dengan suguhan media yang mengkebiri fitrah manusiawi sebagai hamba Allah yang hanif. Terpedaya oleh pemikiran sekuler yang berbaju agamis. Terpedaya oleh hawa nafsu yang mengaburkan segenap pemahaman, hingga hijab-Nya tak kunjung tersingkap. Senantiasa bertambah tebal karena deretan keluh, segudang alasan dan keengganan memproses diri menjadi lebih baik dengan azam kesungguhan yang utuh tak berpoles kata dan tak berlapis kemolekan diri hingga tega menghujani saudaranya yang lain dengan kealfaan demi kealfaan diri.
Cobalah tanyakan pada setiap orang yang kita temui tentang apa arti kemerdekaan? Atau lebih sederhana lagi apakah kita sudah merdeka? Beragam jawabannya. Meski 61 tahun yang lalu kita telah memproklamirkan kemerdekaan negeri ini, tapi ternyata kemerdekaan hakiki tak kunjung kita miliki. Kemiskinan yang merebak di mana-mana, ditambah dengan banyaknya bencana alam yang menambah angka kemiskinan itu, toh selama ini hanya kita maknai dengan pernyataan, “Negeri kita tengah dilanda bencana sebagai ujian dari Allah”. Mengapa tak kita lanjutkan pemaknaan itu dengan mengkaji bencana-bencana itu lebih arif, semisal bertanya pada diri sendiri, “mengapa bencana itu tak membuat diri tersadar akan keMahaKuasaan Allah?”.
Saudaraku, mari beranjak dari ketekungkungan ini dengan memerdekakan diri sendiri dengan benar untuk selanjutnya kita sampaikan pada orang-orang di sekitar kita. Bahwa seperti kata Ali Bin Abu Thalib Radiyallahu’anh, “Barangsiapa yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, maka ia bebas dan merdeka”. Hawa nafsu adalah adalah penjara dengan belenggunya yang berselimut kebebasan, karena ia tak pernah membimbing kita kepada kebaikan, melainkan keterkungkungan yang berakhir pada kehancuran.
Kemerdekaan bukan berarti pula merasa bahwa kita lah yang paling baik lantas mendominasi semua orang, yang selanjutnya justru membuat kita tak menghargai “teriakan” orang lain kepada kita agar kita sedikit membatasi gerak yang kadang kelewat batas. Mentang-mentang kita memiliki kelebihan di banyak bidang, kita lantas mengabaikan pendapat orang-orang yang juga ingin mencicipi indahnya beramal. Karena itu, menghargai perbedaan dan bertoleransi kepada orang adalah penghargaan kita kepada kemerdekaan itu sendiri supaya kita dapat hidup sebagai saudara.
Kemerdekaan adalah juga membangun masyarakat dan melawan kejumudan. Hal ini dicontohkan Rasulullah dalam kepemimpinan beliau yang mampu menciptakan iklim kebebasn di mana seluruh masyarakat bebas untuk berbicara, tidak ada perbedaan antara orang lemah dan kuat di mata hukum dan segala diskriminasi lain. Berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah dengan bahasa yang santun adalah aplikasinya yang kemudian terekspresikan dalam akhlakul karimah yang memukau. Tentunya tak berparas kemunafikan diri melainkan berbalut keikhlasan hakiki.
Kemerdekaan adalah juga memahami batas-batas perilaku. Manusia yang berakal semestinya tidak pernah mengimpikan kebebasan mutlak tanpa batas dan tanpa ikatan karena kebebasan mutlak itu hanya ada di akhirat, bukan di dunia. Kalau kemerdekaan dan kebebasan hanya sekedar dimaknai dengan bebas berekspresi “umbar aurat” (maaf) dengan alasan seni, maka sebenarnya ia tengah merendahkan diri sendiri di tengah balutan intelektualitas dan peradaban modern. Ketika kita mampu mengenal batas-batas perilaku dan mampu mengendalikan diri untuk mematuhi batasan-batasan itu maka tercermin bahwa kita adalah manusia yang mengerti atturan hidup, berilmu, berperadaban dan pantas hidup di zaman yang berteknologi maju, bukan di zaman batu yang seba gelap, penuh intimidasi dan kebobrokan moral.
Maka, kebebasan adalah juga berarti Berprestasi sebanyak-banyaknya di hadapan Allah saja. Tanyakan pada diri sendiri, mengapa kita terperangkap pada keinginan menderu untuk mengikuti trend, mode, figuritas, dan takut dituduh ketinggalan zaman. Mengapa tak coba kita paparkan bahwa sesungguhnya Allah telah memerdekakan diri kita untuk menjadi pribadi mulia dengan amalan-amalan terbaik kita? Begitu banyak potensi yang dititipkan pada diri kita, setiap kita memiliki potensi yang berbeda dengan keunggulan masing-masing. Tetapi begitu dangkal kesyukuran kita. Sekedar berujar pada bibir tanpa penghayatan apalagi perwujudan berupa prestasi iman di hadapan-Nya. Sesungguhnya pada apa pun posisi kita, akan bisa mehairkan prestasi terbaik dengan berperan maksimal. Mencurahkan segenap pikiran, hati dan tenaga dengan hanya mengharapkan keridhoan-Nya.
Saudaraku…betapa masih banyak makna kemerdekaan itu yang semuanya hanya kan melafazkan puji-pujian untuk Allah tatkala kita renungi keindahannya. Tetapi semua itu hanya jika kita memiliki pandangan yang baik dan benar pada agama Allah ini, mengikuti aturan dan petunjuk-Nya yang lurus. Semoga tertiti “sirathal mustaqiem” dengan kemudahan da keindahan melaluinya hingga pantaslah kita menjejak jannah-Nya. Sebab “janji Allah nyata dan pasti”. (FH)
Langganan:
Postingan (Atom)
MULTI INFO
My Favourite Film
- The Message
- Vertical Limit
- Turtle can Fly
- The Kite Runner
- The Purshuit of Happynes
- Ie Grand Voyage
- Sang Murabby
My Favourite Books
- Tetralogi Laskar Pelangi
- A Thousand Splendid Suns
- The Kite Runner
Acara TV Favourite
- Akhirnya Datang Juga
- Wisata Kuliner
- Cinta Fitri, hehehe
- e-Lifestyle
- Padamu Negeri
- Apa Kabar Indonesia
- Kick Andy
- Todays Dialogue
- The nanny 911
