Ayah, pagi yang indah bukan?
Maka Ayah jangan marah pada hujan.
Karena setelah ini pasti ada pelangi.
Lihat aku, Ayah.
Tetap tersenyum menatap hujan...
lalu bermain di bawah rintiknya seperti dulu,
saat kecilku,
saat engkau ajarkan padaku agar kuat hadapi badai.
Agar tangguh diguyur deras.
Maka jangan menangis, Ayah.
Lihat aku, tetap melangkah menyapa hari.
Seperti katamu, kuatlah jalani hidup.
Hidup yang akan berarti bila berlapang hati.
Ayolah...
Ayah, aku rindu senyummu.
Jangan marah lagi pada hujan.
Bukankah hujan juga berkah?
Hanya saja kita sering lupa tuk menyadarinya.
Ayah... sebentar lagi Dhuha,
mari sama-sama kita lafazkan dzikir.
Lalu setelahnya kita tertawa penuh syukur
bahwa DIA masih menjaga kita hari ini.
Aku sayaaaaaaaaaaang sekali pada Ayah,
maka Ayah jangan marah.
Maafkan bila kugores luka pada hatimu berkali-kali,
tapi suatu saat Ayah akan melihat pelangi yang indah setelah hujan.
Ayah, jangan marah lagi.
Mari kita tuliskan kembali sejuta cita-cita indah untuk nanti,
yang akan membuat Ayah bangga.
Sudahlah, kita lupakan hujan deras tadi malam.
Ayah, jangan marah...
Bukankah sekarang hujan juga sudah reda?
Mencoba memaknai hari-hari
Kamis, 31 Juli 2008
Ayah Jangan Marah
Dongeng tak bertuan
Biarlah,
tetap saja melangkah
sampai lelah...
nanti juga akan kita temui jalan
tuk lebih arif artikan hidup
dan lebih bijak tapakkan kaki
Biarlah,
bila sekarang mengusung gamang
dalam bimbang...
nanti juga kau akan tahu
bahwa ada saatnya kita harus memilih
bukan yang sebaiknya kita pilih
tapi yang terbaik dalam pilihanNYA
Biarlah,
sementara ini aku di sini
menuliskan cerita-cerita tak bertuan
tentang dongeng si kancil
yang berlari kian kemari
lalu tercebur di kolam hingga tenggelam
Biarlah,
kita lihat saja nanti
kemana jalan ini berakhir.
Rabu, 30 Juli 2008
Senja Itu Jingga,
Jogja terlihat merah dalam tatapku kala itu
Seketika merona putih saat air wudhu
membasuh semburat wajahmu yang letih…
Dan kerlingmu yang ‘tabah’ tak bisa kulupa
Meski senyummu masih saja bicara
tentang inginmu tuk bahasakan krama
Aku mengerti,
Bahwa dadamu buncah tangis
Sebab sekerat beban menoreh payah langkahmu
Aku hanya bisa menepuk pundakmu dalam sekantung doa
Agar kita mampu tuntaskan amanah
Aku bangga padamu
‘sabarlah’
Kita memang sedang belajar dewasa
Menjadi orang tua
Dan,
Senja jadi jingga dalam tatapku
Ketika matahari sempurna kembali
Mari, kita pulang dulu
Hempaskan penat.
MULTI INFO
My Favourite Film
- The Message
- Vertical Limit
- Turtle can Fly
- The Kite Runner
- The Purshuit of Happynes
- Ie Grand Voyage
- Sang Murabby
My Favourite Books
- Tetralogi Laskar Pelangi
- A Thousand Splendid Suns
- The Kite Runner
Acara TV Favourite
- Akhirnya Datang Juga
- Wisata Kuliner
- Cinta Fitri, hehehe
- e-Lifestyle
- Padamu Negeri
- Apa Kabar Indonesia
- Kick Andy
- Todays Dialogue
- The nanny 911
