Mencoba memaknai hari-hari

Jumat, 05 September 2008

Hingga Dhuha Menyapa Indah

Seperti biasa.
langkahmu kerap kali lunglai mengawali hari, lalu kau ingat beribukali zikir tadi pagi. Jangan sampai nikmat Qiyamullail pupus begitu saja saat keenggananmu berangkat kerja mengguncang dada. Susah payah kau lukis rona pelangi pada wajahmu. Kadang kau berceletuk
"Lha, pelangi kan meniskus : melengkungnya ke atas. Kalau senyum harus melengkung ke bawah. Mana bisa disamakan".
Dan sekali lagi kau menghela nafas. Tak tega semburatkan keluh pada tatapan ibu yang setia mengantarmu dengan senyuman. Atau juga betapa kau tak rela menggores pedih pada harapan ayah. Meski hatimu masih saja berangan tentang hari-hari indah nun jauh di sana, bukan di sini. Tak mengapa, katamu. Bukankah ridhomu menjalani hari-hari ini adalah bakti buat mereka, ayah bundamu. Dan bahagiamu adalah bila mereka bahagia.
Sepanjang jalan kau bernyanyi. Lagu apa saja. Mulai dari balonku ada lima sampai Indonesia raya. Bila kau sudah sangat muak pada ritme hidupmu. saat ditanya kau hanya menggelitik jawab : nasionalis, cinta negeri. Kau sebut itu futur. Sebab kau tahu dirimu lebih suka memurajaah satu dua ayat hafalan Al Qur'an, atau sekedar mendendangkan syair-sair nasyid pelepas lelah.
"Sahabat...duniaku kini tiada ceria. Hilang entah kemana. detik-detik yang kulalui penuh duri..." dan suaramu lenyap bersama angin lantas terlupakan begitu saja. Selanjutnya kau hanya menangis, mengenang lembaran-lembaran indah di masa lalu saat semangat masih membara.
Ya, kau cukup sadar diri. Kau hanya sebatang ranting yang tersembunyi di antara rimbun dedaunan di hutan. Meski citamu masih saja menggelitik langkahmu untuk menggoreskan meski hanya segores titah di pasir pada pantai yang landai, sekedar mengucapkan salam yang indah pada dunia yang haus keramahan.
Setiap kali menatap laut kau berharap bisa arungi luasnya, agar luasnya juga menularkan luas pada jiwamu. Agar meretas ikhlas menyingkap harimu. Agar yang semu pupus saja sudah berganti nyata. Bahwa kau nyata bahagia dengan semua. Kau tergetar saat membahas rukun iman di hadapan anak-anak yang masih buta agama, hujan kian deras menerpa wajahmu. Sudahkah kau juga tuntaskan keimanan, bahwa kau percaya pada Tuhan yang menguasai segala hingga semestinya kau ridha...ridha...dan tak kan membekas aluka apapun pada hatimu saat duri-duri menusuk hati. Bahwa semestinya kau tak perlu kecewa bila takdir kadangkala tak seperti harapmu. Bukankah segalanya adalah kuasaNya.
Laa tahqof walaa tahzan. Kau hapus airmatamu. Mencoba membagi riang pada mereka yang setia menantimu setiap hari meski kadangkala saat kau tiba, pakaiamu berlumur lumpur sebab jalanan becek yang kau lewati. Lupakanlah sejenak mimpimu tuk menapak bagian bumi yang lain yang kau rindukan. Tahukah kau bahwa keberkahanNya tergantung pada kesungguhanmu menggoreskan ikhtiar.
Maka bertahanlah. Setialah bangun sebelum mentari menyapa kokok ayam agar kau bisa bercengkerama denganNya lebih lama hingga kau selalu merasa ada DIA yang setia menemanimu, menjagamu dan menuntunmu. Saat gerimis pagi ini meneteskan bait-bait doa, membumi bersam air, lalu mengangkasa bersama angin. Pintamu buncah dalam lamat-lamat zikir, menyangga harapmu yang patah. Mengeja takdir yang katanya bisa diubah dengan doa. saat keningmu menyentuh sajadah dan jiwa melangit indah. Pada larik-larik gerimis terbaca: Aku memintanya Tuhan. Dhuha terasa indah sekali kali ini dalam nafasmu. Kau lanjutkan melangkah. Apa kabar, hari ini???

Dialog Maya

Harusnya kau tahu,
bahwa yang kau simpan rapi
teramat rapi
tak seorang pun tahu
bahwa ia ada di sana

Tapi tidak dengan-Nya
DIA tahu yang tersembunyi
Kau yang lelap dalam harap
semata harap
yang lantas membuat senyap

Saat DIA jauhkan kembali yang telah dekat
kau tercekat
tersadar kuasa-Nya mampu
membuat segalanya ada
atau meniadakan segala
Lalu...
kau kembali tersungkur sujud
pintamu buncah dalam lamat-lamat zikir

Tuhan...
aku bertanya
masih bolehkah ia meminta sekali lagi
agar jalannya lebih rapi
agar yang tersimpan rapi tak membuatnya menepi

Sebutir Hujan

Dan
riaknya menggerutu dalam diamku
Aku beriak
saat sebutir hujan
mengusik heningku

Piasnya terserak ke tepian,
menyapa pasir yang memagari pantai
Landai...
Luruh lagi dibawa ombak ke lautan
Tak berasa
tenggelam
Lalu hilang
bersama angin,
Terlupakan begitu saja

ia berkata :
sudahlah

My Favourite Film

  • The Message
  • Vertical Limit
  • Turtle can Fly
  • The Kite Runner
  • The Purshuit of Happynes
  • Ie Grand Voyage
  • Sang Murabby

My Favourite Books

  • Tetralogi Laskar Pelangi
  • A Thousand Splendid Suns
  • The Kite Runner

Acara TV Favourite

  • Akhirnya Datang Juga
  • Wisata Kuliner
  • Cinta Fitri, hehehe
  • e-Lifestyle
  • Padamu Negeri
  • Apa Kabar Indonesia
  • Kick Andy
  • Todays Dialogue
  • The nanny 911

Bagaimana pendapat anda tentang blog ini?