Mencoba memaknai hari-hari

Sabtu, 26 Januari 2008

PALESTINA, SEDANG APA KAU SEKARANG ?

Palestina…sedang apa kau sekarang ?
Saat mataku nanar menatapi suguhan acara-acara televisi yang
meninggalkan jenak tawa pada bibirku
Tanganku masih sibuk berlarian di antara huruf-huruf pada keyboard komputer
Sementara jemari mungil anak-anak mu telah perkasa
melemparkan batu-batu keagungan yang membebaskan sejengkal tanahmu.
Kakiku masih beralaskan sepatu buatan zionis hina
Sementara kaki-kaki mereka menendang tubuh-tubuhmu tak berdosa
Kerongkonganku sesaat lalu masih meneguk olahan yahudi
Sementara engkau merelakan buka puasamu dengan beberapa tetes air saja
Tubuhku masih dilumuri sabun-sabun Amerika saat mandi
Sementara Amerika melumurimu dengan debu-debu dari rumahmu yang hangus terbakar

Palestina… peta perjuanganmu membentang di hadapanku
Menandai tetes-tetes darah yang seketika harum ditadahi bumi
Melukiskan tujuh awan gegap gempita menyambut syuhada
Memperdengarkan kabar bahagia dari
ainul mardliyah yang menyongsongnya di pintu syurga
dan…puluhan ribu malaikat mengantar jiwa-jiwa suci kepada Rabb-nya
dengan gerimis yang mendamaikan penerusnya
tak bakal henti, hingga kemenangan kembali

Palestina…dengarlah
Sejuta arsitek lain akan tumbuh bagai jamur ketika Ayyash syahid
Dengan ghirah yang tak kalah menggelora meski perjuangan harus terus berlanjut hingga kimat, sebab jiwa-jiwa hanya memaknai kemenangan atau kesyahidan
Generasi masa depan adalah al-tahrir yang dipenuhi jiwa-jiwa pembebas.
Tidak ada kekuatan dunia yang dapat mematahkan perlawanan intifadhah.
Tidak Amerika
Tidak Israel
Tidak pula Yahudi
Sebab Palestina Bumi Islam !!

ANDAI RASULULLAH BERSAMA KITA HARI INI

Pernahkah engkau bayangkan, kawan
Andai Rasulullah bersama kita hari ini
Menghampirimu sambil berkata “Assalamu alaikum warahmatullah”
Sedang engkau dengan terbata menjawab salamnya
Lalu Beliau tanyakan sudahkah engkau sholat
Sedang engkau dengan tergugu berkata “belum”

Pernahkah engkau bayangkan, kawan
Betapa pedih hati beliau kala melihatmu masih tertidur lelap
Meski matahari telah beranjak naik
Fajar yang indah yang tak pernah kau sapa
Lalu terik mentari membuatmu kian legam bakda zuhur
Tanpa setitik air wudhupun membasuh kulitmu
Betapa miris hati Rasulullah…
Saat melihat ratusan anak yatim, tak tersentuh
Tak pernah mengenal kasur empuk dan selimut tebal
Sementara gedung-gedung kian tinggi mencakar langit

Pernahkah engkau bayangkan, kawan
Pipi Beliau yang putih bersih menjadi basah saat melihat masjid-masjid yang kosong
Saat melihat jilbab-jilbab indah telah berganti menjadi rambut warna-warni
Saat melihat Alqur’an telah berganti dengan komik Doraemon
Saat melihat hafalanmu telah berubah menjadi musik yang mengenaskan
Astagfirullahal’adziem…
Dan bahkan mungkin, engkau tak lagi mengenalinya

Pernahkah kawan…
Sesekali engkau rindukan kehadirannya,
Memintanya bercerita tentang kebesaran Allah
Bercerita tentang indahnya islam
Tentang ajaran indah dari Allah yang kan dibawa hingga akhir zaman
Ya…andai Rasulullah bersama kita hari ini

Baiklah, mari sejenak kita kenang perjuangan sang Al-Amin
Di tengah Bani Hasyim di Makkah pada Senin pagi, 12 Rabiulawal permulaan tahun Gajah,
api yang disembah orang-orang Majusi seketika padam
Sepuluh balkon istana-istana Kisra dan gereja-gereja di sekitar Buhairah runtuh
saat itu, Ia Muhammad, yang telah menjadi yatim saat lahir dari rahim Ibunda Aminah
ia lahir..bersinar serupa cahaya yang menyinari istana-istana di Syam
ia Muhammad yang kemudian menjadi Rasulullah mulia

Mari kita kenang tentang bayi Muhammad, kawan
Allah menjadikannya terjaga dalam dekapan ibunda yang menyusuiinya
Tsuwaibah dan Halimah
ia tumbuh menjadi Muhammad kecil yang santun dan periang



ia yang menjadi bersih hatinya saat Jibril membelah dadanya,
mengeluarkan segumpal darah kotor
mencucinya dengan air zam-zam dalam baskom emas
tahukah engkau kawan, wajah Muhammad kian berseri
dan ia kembali kepangkuan ibunda Aminah

pernahkah engkau bayangkan kawan
andai engkau menjadi yatim piatu saat 6 tahun seperti Muhammad
lalu ditinggal oleh sang kakek saat 8 tahun
lalu engkau sebatang kara
akankah engkau setegar beliau?
Ia pernah mengembala kambing
Ia pernah menjadi pedagang
Tapi ia tak pernah mengeluh,
ia yang tegar dalam setiap langkah, santun dalam setiap ucap, mulia dalam setiap niat
Ia yang sidik, yang tablihg, yang amanah, yang fathonah
Dia yang berakhlak sempurna
Dialah tauladan kita
Dialah Rasulullah Muhammad

Pernahkah engkau rindukan pertemuan indah dengan Rasulullah, kawan?
Melihat senyumnya?
Menjawab salamnya?

Pernahkah engkau, kawan…merindukan kebersamaannya
Meski sekedar membaca sejarahnya
Membaca shalawat atasnya ketika shalat
Membaca Alqur’an
Atau …jangan-jangan
Engkau telah lupa,
sebuah ajakan mulia yang melantun indah
saat engkau jalani Islam dengan sempurna

ASAP DAN HUTAN RIAU

Beberapa tahun belakangan ini, di setiap musim tanam dan musim kering, Riau selalu berhadapan dengan ritual bencana asap, disamping juga bencana banjir dan pencemaran sungai. Bencana ini seolah menjadi hal yang lumrah dan merupakan bagian dari ritme kehidupan yang harus dilalui, meskipun asap yang ditimbulkan oleh pembakaran hutan dan lahan ini menimbulkan kerugian milyaran rupiah setiap tahunnya. Alhasil, Riau pun dinobatkan sebagai salah satu propinsi penghasil asap terbesar di Indonesia. Tetapi anehnya, Pemerintah Daerah tidak juga memberikan respon yang berarti untuk memperbaiki keadaan dan masih saja bergulat dengan permasalahan klasik, seperti kekurangan dana dan peralatan. Inilah realita yang ada di propinsi yang menganggarkan belanja tahunannya senilai dua trilyun rupiah lebih ini.

Meneliti kembali runtutan peristiwa yang berakibat bencana ini, barangkali tidak lah salah bila bencana ini merupakan akibat dari kesalahan terhadap alam ketika pada tahun 1980-an mulai terasa dampak memburuknya kesehatan hutan alam Riau akibat eksploitasi hutan secara besar-besaran. Ratusan hektar hutan dilepaskan kepada pengusaha HPH, disusul politik konversi dengan memberikan peluang yang besar kepada pengusaha sawit dan HTI serta insentif bagi IPK (Izin Pemanfaatan Kayu) kepada pengusaha perkbunan dan Dana Reboisasi kepada pengusaha HTI. Akhir tahun 1990-an kebutuhan dunia akan CPO (minyak sawit) meningkat pesat. Ditambah ambisi dua industri pulp dan paper menjadi eksportir kertas terbesar di dunia dan dilengkapi dengan keinginan pemerintah Daerah untuk memperluas perkebunan sawit menjadi 1,02 juta hektar dari 2,5 juta yang ditargetkan, sehingga terciptalah simbiosis mutualisme antara pengusaha dan penguasa yang meng-iya-kan pembersihan lahan (land clearing) melalui praktek membakaran hutan yang pada akhirnya meluluhlantakkan seluruh tutupan hutan Alam Riau menjadi sekitar 785 ribu hektar saja pada April 2003.

Secara biologis, pembakaran lahan yang merupakan salah satu cara yang digunakan oleh Perkebunan Besar di Riau memang dapat menaikkan pH tanah menjadi antara 5 -6, sehingga cocok untuk ditanami sawit. Tetapi pada dasarnya land clearing ini menimbulkan kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembakaran hutan mengakibatkan kerugian ekonomi, erosi karena tanah 20 – 30 kali lebih peka dibandingkan dengan daerah hutan yang tidak terbakar, terjadinya perubahan iklim global, hilangnya habitat satwa dan erosi berbagai bibit benih tumbuhan dan fauna di lantai hutan, mempercepat penghilangan biomassa lantai hutan, mempercepat proses pencucian hara tanah, terjadinya banjir di daerah yang hutan gambutnya terbakar, dan polusi udara serta air.

Kebakaran hutan juga berdampak pada kesuburan tanah. Sifat fisika tanah berubah dengan rusaknya struktur tanah sehingga menurunkan infiltrasi dan perkolasi tanah. Hilangnya tumbuhan juga membuat tanah menjadi terbuka sehingga energi pukulan air hujan tidak lagi tertahan oleh tajuk pepohonan. Pada fisik kimia tanah juga terjadi peningkatan keasaman tanah dan air sungai. Untuk sifat fisik biologi tanah, kebakaran hutan membunuh organisme tanah yang bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah. Makroorganisme, seperti cacing tanah yang dapat meningkatkan aerase tanah dan drainase tanah juga menghilang di samping hilangnya mikroorganisme tanah seperti mikorisa untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara P, Zn, tambang (Cu), magnesium (Mg) dan besi (Fe).

Inilah kesalahan sebagian kita terhadap alam yang merupakan ayat-ayat qauniyah-nya Allah SWT. Padahal telah jelas dikatakan di dalam Alqur’an bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah akibat ulah manusia juga. Kita baru kerepotan menyediakan masker ketika musim asap itu tiba. Kita baru sibuk membicarakan penyakit ISPA ketika asap telah menyesakkan dada. Pendidikan mulai mengeluhkan semrawutnya kalender pendidikan ketika sekolah-sekolah diliburkan dengan alasan asap yang membahayakan. Ya, asap seolah menjadi momok yang tidak berujung pangkal.

Sangat disesalkan memang. Undang-undang dan peraturan pemerintah tentang penanganan kasus pembakaran hutan ini bukan tidak ada. Tetapi kesemuanya itu seolah hanya lips servise tanpa ada tindak lanjutnya. Jika pun ada hanyalah produk setengah-setengah yang lantas dilupakan setelah ritual bencana itu berakhir.

Di sinilah kita hari ini, menangguhkan kepercayaan yang rasanya semakin mewah dan mahal. Terus menerus kita membangun kepercayaan sehingga ia menjadi kata kunci. Tetapi, itu pun hanya pemikiran sebagian dari kita yang peduli pada alam, apalagi hedonisme penduduk Riau termasuk Indragiri Hilir seolah turut andil dalam kelalaian untuk menjaga alam ini. Terbungkam materi, bangunan-bangunan kokoh, perkembangan ekonomi dan juga teknologi yang tidak dibarengi dengan landasan keilmuan yang berarti. Tetapi di sisi lain rasa malas untuk memperhatikan alam semakin menjadi, kemerosotan pendidikan yang terkubur tipu daya materi, keegoisan yang mengenyampingkan keadilan dan rasa kasih sayang pada sesama adalah wajah Riau saat ini. Salah satunya ketika penduduk miskin di sekitar areal hutan yang terbakar dan terpencil mengerang kesakitan sekaligus kesulitan, pada saat itu juga jalan-jalan ke luar negeri justru menjadi trend sebagian masyarakat atas. Padahal juga negara yang dikunjungi menodong kita sebagi eksportir asap yang mengganggu kehidupan mereka. Padahal lagi sebagian pengusaha sawit dan juga penadah minyak sawit itu adalah dari negara tetangga. Mengapa kita enggan untuk unjuk peduli memikirkan nasib bumi yang terus mengepulkan asapnya karena tak mampu lagi mengingatkan negeri kita dengan hanya banjir saja.

Mungkin tak kan habis-habisnya bila terus kita korek kepulan asap di Riau ini. Upaya pencegahan, penanggulangan dan pemantauan sudah sepantasnya segera dilakukan oleh semua pihak di Riau. Menjadi pemikiran untuk kita semua, apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan bumi Riau, agar Allah tak perlu berkali-kali mengingatkan kita karena hanya orang-orang yang lalai lah yang tak mengindahkan peringatan Allah. Allahualam bishowab. (Rieve)

Rabu, 23 Januari 2008

Jalan

Jalanan, apa yang anda fikirkan tentang jalan?
Ada banyak makna yang hinggap di kepala saya tentang jalan. Yang jelas, kemana pun kita pergi, kita membutuhkan jalan untuk mencapainya.

Kita membutuhkan lautan untuk menyeberangi pulau, kita membutuhkan lintasan udara untuk terbang dengan pesawat, kita membutuhkan gunung yang terjal untuk mendaki, kita pasti membutuhkan jalan untuk apa saja, bahkan sekedar untuk memecahkan sebuah rumus fisika yang rumit. Kecuali kalau kita mempunyai mesin waktu yang bisa mengantarkan kemana pun kita pergi. Tetapi pertanyaannya adalah apakah mesin itu ada di luar dunia fiksi???
Jalanan itu adalah sebuah apresiasi seni yang tinggi, kata Andrea Hirata dalam 'Edensor'nya. Ada terjal, tikungan, turunan, tanjakan, ada lampu-lampu jalan...

Jalanan itu adalah materi fisik yang membuat konsep Newton ditentang habis oleh teori Relativitas Einstein dengan kecepatan cahayanya.

Jalanan, terkadang belukar tumbuh pada tepian merambat ke tengah, membuat jalanan tertutup. Tapi cobalah menyibaknya dengan belati yang tajam, maka jalanan itu akan terbuka lebar, dan terang benderang.

Jalanan yang juga muncul dari keajaiban tongkat Musa AS saat membelah laut Merah dan menyelamatkan kaumnya sekaligus menenggelamkan Kaum Fir'aun yang kafir.

Jalanan yang mengalami kontradiksi. Lihatlah Semanggi yang memperindah kota Jakarta, lalu Busway yang membuka kontroversi baru. Jalanan juga yang membuat kasus Lapindo meletup-letup sebab jalanan tertutup lumpur. Aneh, bukankah lumpur juga materi penyusun tanah?

Jalanan yang menjadi permasalahan tanpa ujung di Riau, selalu hancur tiap kali di bangun jalan baru. Bermunculan lubang-lubang di tengah aspal. Siapa yang salah, Pemda, kontraktor, pemakai jalan atau kondisi alam? Buklankah PH asam bi Riau bisa diatasi dengan menaikkannya menjadi sangat basa agar jalanan aspal tetap awet asal para pelaku illegal logging cukup tau diri saat melintasinya.

Hidup ini juga jalan. Jalan panjang amenuju mardatillah. Puncak tertinggi dalam lintasan perjuangan . Jalan hidup adalah lintasan waktu yang kan terpenggal oleh ajal, lalu perjalanan berlanjut sebagai pertangungjawaban atas kehidupan duniawi.

Jalan
Menjadi topik utama dalam Al-Quaran dibahas pada ayat ke-7 Al Fatihah : Ihdinasshirathal mustaqiem 'Tinjukilah kami jalan yang lurus'. Pada dasarnya telah diingatkan-Nya untuk menapaki kebenaran, berjalan lurus di muka bumi.

So...
Terserah pada anda.

Rivana

KETIKA BATU BICARA

Tulisan ini bukanlah epik yang menceritakan tentang heroiknya perjuangan Palestina sebagaimana yang disajikan begitu manis dalam epik dan film dokumenter berjudul serupa ‘Ketika Batu Bicara’. Tulisan ini sebenarnya hanya sebuah cipratan dari sesuatu yang menggelitik hati saya ketika membaca tulisan Izzatul Jannah tentang Vision of Our Life, salah satu cerita dari kumpulan tulisan dalam buku ‘Rumah Penuh Cinta’.

Dikisahkan tentang seuntai awan kecil yang selalu disingkirkan oleh awan-awan besar. Dalam kesedihannya, si awan kecil tadi pun berkelana dari satu daerah ke daerah lain dan setiap kali bertemu dengan awan-awan besar ia tidak pernah bosan menawarkan jasanya untuk bisa mengubah dirinya menjadi hujan sebagaimana awan-awan besar yang kemudian mampu menghijaukan bumi. Akan tetapi tidak sekali pun si awan besar menerima tawarannya dan justru mengatakan padanya

“Ah, dirimu terlalu kecil. Tidak bisa berbuat apa-apa”.
Tetapi si awan kecil tidak berputus asa, hingga tibalah di suatu tempat yang kering kerontang, di atas padang pasir yang lengang, ia pun mengubah dirinya menjadi setetes hujan, hanya setetes dan itu pun jatuh tepat di atas batu.

Singkat kata, setetes hujan tadi ternyata menghebohkan padang pasir yang gersang yang kemudian mengundang gempita hijau dedaunan untuk terus tumbuh, mengundang awan-awan besar untuk turun menjadi hujau di daerah tersebut. Tak seorang pun tahu bagaimana pada awalnya daerah yang gersang itu memulai hijaunya. Hanya batu yang tak pernah mati yang menyimpan rahasia tentang setetes hujau dari awan yang kecil tadi. Dan inilah cerita dari batu itu tatkala daerah itu telah menghijau di kemudian hari.

Saya tertarik sekali dengan cerita sederhana itu. Berkali-kali cerita itu saya baca dan saya renungkan. Ada yang berdentang-dentang dalam dada saya ketika menilik kembali perjalanan hidup hingga detik ini. Menilik ulang tentang sepotong azzam dalam diri yang terkadang mengalami naik turun antara kesadaran tuk berani berarti dan berani berarti untuk kesadaran. Sama sekali berbeda ternyata. Dan benarlah seperti yang dikatakan Izzatul Jannah bahwa setiap orang semestinya memiliki visi hidup dan kemudian memastikan bahwa visi hidup mestilah berakar dari visi yang dititipkan Sang Maha.

Bentang usia manusia nyaris tak menyisakan jeda untuk sempat lalai andai semua kita menyadari betapa tak berdayanya kita menyangga kelalaian kita. Bisa jadi hidup kita pun hanya kumpulan untai awan-awan kecil yang terus menerus tercipta setiap kali ia luruh menjadi setes hujan. Apa yang kita punya sama-sekali tak bisa diandalkan untuk menjadi penjamin masa depan di dunia dan akhirat tanpa adanya keistiqomahan dan kebergantungan yang utuh padaNYA.

Belajar dari jejak lalu. Berkaca pada selarik perjalanan hidup. Membaca ulang fluktuasi keimanan yang mengiringi usia kita hingga detik ini mungkin akan melahirkan selautan kisah dan ibrah. Mari memetik ibrah dari skenarioNya bagi kita. Saat terlahir kita menangis sementara orang-orang tertawa. Saat tangisan kita terhenti sesungguhnya kita telah belajar memilih untuk mengambil resiko melanjutkan kehidupan di dunia. Kita berlepas diri dari sistem sempurna dalam rahim ibunda, belajar untuk memakan yang tak biasa kita makan, belajar untuk menghirup oksigen yang sama sekali berbeda dengan kegelapan dalam rahim. Hari demi hari kita memulai dari nol, dari belajar menggerakkan sebagian anggota tubuh, tengkurap, merangkak, berdiri, tertatih, berjalan, berlari.... Belajar bicara satu demi satu kata lalu melahap kata dan berkata-kata. Belajar bersikap lalu bersikap bijaksana. Panjangnya perjalanan... panjangnya perjuangan... Merengkuh nasib, menyibak gaib di hadapan dengan tuntunan hati. Maka pada apakah selama ini hati kita bertumpu? Apakah kita bisa memilih untuk berhenti dari kehidupan dan kembali ke alam rahim ? Tidak. Sama sekali tidak. Pilihan kita hanya satu yaitu melanjutkan perjalanan hidup sampai perjanjian kita selesai.

Betapa sesungguhnya kita akan sendirian menanggung beban hidup ini, memikul dosa, mengharapkan pertolonganNya dengan ikhtiar yang sempurna. Maka, sudah terlanjur mengambil resiko hidup maka jalani saja hidup sesuai kemampuan seperti yang dikehendakiNya. Apalah daya kita tanpa kekuatanNya. Maka sekali lagi kekuatan hati kita hanya bersumber dariNya. Saat kita menggalinya maka akan kita dapatkan, jika kita mengabaikannya, ya kita akan kehilanganNya.

Sejujurnya, tulisan ini terlontarkan dengan hati rapuh. Tapi kerapuhan itu sedang coba direkatkan dengan bergantung sepenuhnya padaNya. Ketika pemandangan di hadapan begitu pekat dan terasa....”TERNYATA SAYA SENDIRIAN”, kepada siapa bisa disampaikan selain kepadaNya. Mungkin ada begitu banyak orang di sekitar kita yang siap mendengar dan membantu, tetapi terkadang rasa KESENDIRIAN itu tidak bisa dibagi. HATI adalah ruang lain yang tak bisa sepenuhnya diisi oleh orang lain. HATI hanyalah ruang rasa yang berisi beragam rasa. HATI juga yang setia dibawa kemana-mana saat banyak hal yang hilang dari kita.

Seperti kisah seuntai awan kecil tadi. Saat awan-awan besar semakin besar, awan kecil memilih mencari tempat sunyi dan gersang untuk bisa memberi arti dan menjadikan dirinya bermanfaat. Barangkali tak banyak yang bisa diperbuat tapi setidaknya ada arti. Hidup... hanya perjalanan yang berujung. Semua yang ada di dunia pasti memiliki akhir, pasti ada penyelesaian. Hidup hanyalah untaian episode demi episode, perputaran roda kehidupan, pergulatan antara harapan dan keputusasaan. Sekali lagi, hidup adalah perjalanan. Tidak akan terasa sampai pada akhirnya nanti akan ”selesai”. Tugas kita hanyalah sampai usia kita ”berakhir”, selanjutnya biarlah generasi lain yang melanjutkan. Mungkin... generasi itulah yang mesti kita siapkan, mungkin tidak banyak, mungkin juga tak terlahir dari tangan kita, tapi setidaknya ”ada” yang kita usahakan.
(Rieve)

Membuka Pintu Ar-Rayyan

Saudaraku…mari kita bentangkan maaf seluas hamparan rasa, kita lapangkan hati, kita lebarkan jiwa…tuk memulai satu keputusan besar bahwa kita kan menjejak pelataran surga-Nya, yang kan menguakkan pintu-pintu Ar-Rayyan. Ya, bagi perindunya, Ramadhan adalah sebuah bulan yang teramat dinanti. Kasih sayang-Nya tumpah ruah pada masa ini, menjadi butiran-butiran berharga lewat apa saja kebaikan yang kita lakukan di dalamnya.

Saudaraku…mengawali tulisan ini, kuhaturkan maafku untuk segenap keterbatasan yang ada padaku, yang memburai menjadi apa saja yang kau tak suka terlebih yang DIA tak suka. Yang barangkali pernah menggores hati, menyemai amarah atau membuatmu menghimpun air mata. Selanjutnya…kupastikan telah kuhapuskan semua khilafmu. Pada akhirnya…semuanya telah kusebut sebagai “cinta” yang hanya Allah muaranya. Aku meminta maaf padamu dan telah pula memaafkanmu karena aku mencintai-Nya melebihi apa saja, termasuk perasaanku sendiri..dan kuyakini semua itu adalah karena cinta-Nya yang tak pernah membiarkan hatiku berlumut dan hitam. Ya…kusimpulkan bahwa kita mulai mengarungi pelataran surga-Nya dengan hati yang bersih.

Saudaraku…adakah kerinduan yang mengukir cinta di hati kita tuk bersua dengan-Nya? Karena ada dua kebahagiaan dalam Ramadhan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan-Nya. Adakah pernah terusung penat kita dalam pengaduan hanya pada-Nya ? ataukah justru bermuara pada keluh kesah yang muncrat pada kata-kata kita menjadi ghibah dan fitnah?
Saudaraku… pernahkah kita sadari betapa besar kasih sayang-Nya? Mengalun…melantun…tanpa henti…tanpa jeda…menyemai syukur pada tiap denyut nadi…mengalahkan semua perih…kecewa…yang ‘manusiawi’ kadang bisa menghinggapi kita manusia.

Saudaraku…pernahkah kita coba tuk sediakan sepertiga malam bersama-Nya? Mengakui seluruh kekhilafan diri dengan kerendahan yang mengakui ke-Maha Tinggi-an Sang Maha Suci ? Meminta pada-Nya “penjagaan” yang utuh sepanjang usia, meminta pada-Nya kelapangan hati yang tak berbatas. Meminta pada-Nya mengaruniakan ketentraman…hingga teraihlah keikhlasan…menjalani hidup ini dengan apa pun keinginan-Nya, sebagai puncak dari segalanya. Ya…ketika hanya ada “ALLAH” saja di hati. Mengalahkan semua ambisi. Hingga wajarlah rasulullah menikmati keindahan bersama-Nya sampai tak terasa bengkak kakinya karena sujudnya yang lama. Hingga wajarlah sahabat tak merasakan anak panah menusuk diri saat merasakan kenikmatan bersama-Nya dalam kekhusukan sholat.

Saudaraku…pernahkah kita buka lebar hati kita. Membaca isi tiap ruangnya, menepis percik noda agar tersingkir habis lalu menggantinya dengan cinta dan harapan untuk-Nya saja. MembiarkanNya selalu ada, bersama dan mengiringi setiap langkah. Tak ada yang berat saudaraku…Fitnah, amarah, luka, caci maki dan semua ketidaknyamanan tak kan berarti apa-apa. Ketika kita telah merelakan diri dan hati kita menjadi milik-Nya. Selanjutnya…kita ridho dengan kehendak-Nya. InsyaAllah kan terasa ringan menyikapi persoalan-persoalan hidup, lapang menghadapi kesempitan, tenang menghadapi rintangan dan tantangan…seperti kata para salafusalih “ Sungguh ajaib urusan orang mukmin itu, jika ditimpa kebahagiaan ia bersyukur dan jika ditimpa kesulitan ia bersabar.”

Saudaraku…hidup ini bukan tujuan. Hidup ini hanya “jalan yang mesti kita lalui. Jalan itu membentang dan diisi dengan aneka ujian dan cobaan” Mampukah kita bertahan untuk terus berada di atas jalanNya dengan segenap resiko dan apa pun yang kita alami, penuh kerelaan, penuh keridhoan, penuh kesabaran…tak berbatas. Tanpa peduli di mana pun, kapan pun dan bersama siapa pun, kita kan senantiasa setia…teguh…untuk terus berjalan bahkan berlari menuju-Nya.
Dan satu bulan Ramadhan yang di dalamnya penuh rahmat, berkah dan maghfirah akan kita jejak. Kuyakin butiran-butiran cinta-Nya yang menjadi apa saja yang selalu penuh ibrah di dalamnya kan kita usung, kita kantungi. Sediakanlah karung hati yang luas agar dapat kita yakinkan bahwa tak satu pun terlepas. Sediakanlah halaman tarbiyah yang bersih dan luas lalu kita suburkan dengan ilmu yang berkah agar bunga-bunga yang kita semai bermekaran dan indah…seperti taman-taman surga; di mana di dalamnya kita saling membagi dan menerima, saling mengingatkan dan menguatkan, saling menginginkan yang terbaik bagi saudara, saling mendahulukan kepentingan orang lain, dan senantiasa mempersembahkan yang terbaik untuk-Nya lewat amalan yang niatnya terjaga mulai dari awal, selama perjalanan hingga terwujudlah tujuan setiap niatan itu dengan sempurna.

Bangunlah istana ibadah megah di setiap detiknya, lewat percikan air wudhu yang bening, DENGAN TAKBIR YANG SYAHDU, SUJUD YANG KHUSYU’ lalu kita sempurnakan dengan pertemuan indah dengan-Nya di setiap sepertiga malam. Kita agungkan nama-Nya disetiap denyut nadi, kita puji kebesaran-Nya dalam setiap nafas, kita bersihkan riak-riak rasa dalam butiran air mata menjadi ombak yang mengalun indah menepis buih-buihnya…hingga tak kan ada gelombang yang membuat biduk kita luluh lantak, tetapi seperti Nuh, mampu teguhkan bahtera karena ketergantungan yang utuh hanya pada-Nya.

Kita bangun anak-anak tangga menuju istana perak di jannah-Nya lewat tiap keping infaq dan kasih sayang bagi sesama. Lewat senyum dan lantunan doa. Doa yang paling baik adalah doa yang tak diketahui saudaranya.

Kita kumpulkan buah-buahan surga lewat lapar dan dahaga, juga letih dan llelah yang mengucurkan keringat pada lalu lalang kita yang berisi hikmah dan manfaat di bumi-Nya. Yang tak mengusik semut-semut kecil di tanah hitam, atau di lliang-liang, tidak pula menggemparkan sekumpulan lebah yang sedang mengumpulkan madu di sarang, tidak pula membangunkan singa yang tertidur kelaparan.

Kita ukir kunci-kunci Ar-Rayan lewat kesabaran kita menuntaskan hari-hari yang penuh dinamika, uji dan coba. Kita bentangkan maaf dan pengertian untuk tiap llara yang tertukik lewat kata…barangkali mereka tak sengaja. Kita tebas fitnah dengan ketenangan sembari menyandarkan jiwa pada-Nya. Maka biarlah Allah saja yang melembutkan hati-hati yang kaku, membuka pintu-pintu yang terkatup juga membuka celah pada cadas bebatuan di kerasnya keangkuhan pada sebagaian kita. Seperti Umar yang bersimbah air mata menyadari khilafnya.
Dan…di sinilah kita hari ini. Di dekat Ar-Rayyan…surga yang disediakan Allah bagi mereka yang bepuasa. Tak terlalu jauh jaraknya…tinggal kesungguhan kita mengetuk pintunya, mencari kuncinya, menapaki pelatarannya dan membukanya perlahan. Menatap cahayanya yang menyilaukan… di mana di dalamnya kan kita dapati sebuah keindahan yang tak terperi, tak terbayangkan…tak tergambarkan. Sementara di belakang kita atau mungkin di bawah kaki kita ada neraka yang teramat panas, suaranya memekakkan telinga dan hanya kengerian tak terkatakan yang ada di dalamnya… akan kemana kita melangkah ??? sepasukan malaikatnya berjajar… menyaksikan kita. Dan DIAlah ALLAH di tempatnya yang Maha Tinggi. Di arsynya yang agung menanti kita. (Rieve)

Bila Harus terlepas..

Ada sedih dan bahagia saat setiap sesuatu terselesaikan. Kenapa ? Akan banyak alasan yang muncul pada setiap orang yang ditanyai, termasuk mungkin anda juga saya. Salah satunya adalah karena kita kehilangan sekaligus mendapatkan kelegaan atas apa yang telah kita usung berhari-hari bahkan bermusim-musim.

Bila harus terlepas…begitulah saya menyebutnya. Biarkan semua menggelinding bersama waktu hingga akan terpisah di sebuah persimpangan atau sebuah titik akan mempertemukan pada sebuah kesempatan yang mampu terbingkai dalam makna. Selanjutnya akan kita kenang dengan indah bahwa jalanan ini terlalu indah untuk kita biarkan terjal membadai, sebab di antara terjal ada batu-batu cadas yang akan membantu mendaki, sebab di antara badai selalu ada sepoi yang menebar kesabaran di hati. Semua tak akan kita dapati bila tidak kita lalui.
Bila harus terlepas…Sebuah kesempatan yang mungkin terlewatkan, biarkan menggelinding bersama waktu. Bukan berarti itu sia-sia. Hanya saja karena itu bukan jatah kita…belum saatnya kita miliki.

Yang patut kita pertanyakan adalah seberapa besar jiwa kita melepaskannya ? Sebarapa pemahaman kita membaca keadaan pada akhirnya ? Lebih sering mungkin kita kecewa…tapi mungkin jauh lebih bijak bila kita buang jauh-jauh keangkuhan yang memetakan kecewa, marah, stress, putus asa dan segudang perasaan lain. Bukankah semua itu ada karena kita merasa angkuh ? Karena kita merasa memiliki segalanya. Karena kita merasa seharusnya tak pantas menerima hal itu ? Padahal di luar itu semua ada sang Pengatur yang telah menetapkan segalanya. Dia yang mengetahui ukuran kemampuan kita, Dia yang Maha tahu rencana mana yang lebih baik bagi kita.

Karenanya…tak perlu kita berlarut-larut dalam kesedihan. Tidak ada yang sempurna kecuali Allah dan DIA pun tahu hal tersempurna yang sempurna untuk kita hadapi dan miliki.
Sebab jurang tak selalu berarti kekalahan,sebab jurang tak melulu masalah ketakberdayaan,sebab jurang tak selamanya tempat kejatuhan.
Karena jurang juga diciptakan untuk mereka yang ingin mendaki,karena jurang ada bagi mereka yang berani,untuk menyeberangi,untuk menaikinya kembali, bila ia terjatuh nanti.
Jadi, biarkan bila jatuh ke jurang, bila memang harus jatuh. Sebab selalu ada yang membantumu untuk naik kembali. (Rieve)

Disleksia Pemikiran: Wacana Lunturnya Nilai Islami di Bumi Melayu


Permisivisme Masyarakat VS Kelunturan Akhlak

Miris. Itu yang pertama kali saya rasakan ketika menyaksikan anak-anak usia SMP dan SMA melenggak lenggok di cat walk, berbusana muslimah yang konon katanya syar’I (padahal minus kesopanan), berdandan menor dengan penutup kepala yang ditata sedemikian rupa hingga tampak lekuk leher dan dada. Beratus pasang mata menyaksikan tanpa kedip, sebagian mengabadikannya dalam digital camera atau kaset handycam. Diiringi alunan musik melayu dan berlatar belakang slogan membudayakan pakaian Islami. Seketika mencuat penolakan dalam diri saya mengapa pada prakteknya kegiatan ini sangat-sangat bertentangan dengan promosi dan ketentuan yang dituliskan dalam pemberitahuan perlombaan.
Pakaian longgar dan syar’I, tidak boleh ketat. Tetapi yang tampil justru mengenakan celana jeans dan pakaian seksi. Apakah Islam boleh dimanipulasi? Acara ini dimaksudkan dalam memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Tetapi mengapa backsoundnya adalah lantunan “Buaya Darat” nya Ratu?. Festival Busana Muslim/ Muslimah santai ?. Dalam adab kesantunannya, bukankah tidak pada tempatnya bila wanita berlenggak-lenggok di depan lelaki yang bukan mahramnya?

Duhai, tidak adakah kata yang lebih pantas untuk mengartikan festival ini selain ajang yang membuka pintu-pintu permisivisme masyarakat melayu menuju disleksia pemikiran. Hiruk pikuk teriakan para supporter seolah makin menjauhkan nilai Islami. Bukankah dulunya kita mengenal bumi melayu ini sebagai bumi yang sarat akan nilai agamis dan budaya? Duhai, bila ingin menciptakan generasi muda yang berakhlak mulia, apakah dengan cara membiarkan kemaksiatan bercampur baur dalam prosesnya? Apakah wanita boleh mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan laki-laki? Apakah wanita boleh mengenakan pakaian ketat yang menampakkan postur tubuhnya? Apakah wanita boleh berdandan menor dan menyanggul rambutnya seperti punuk unta? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan luapan emosional yang tanpa landasan. Pertanyaan ini hanya sebuah pembenaran atas hadist Rasulullah, Suri tauladan ummat yang terjamin kebenarannya. Tidak takutkah kita ketika sabda Rasulullah bergaung di telinga, “Tidak akan masuk surga wanita-wanita yang berpakaian tetapi seperti telanjang, yang menyerupai laki-laki, yang menyangguk rambutnya seperti punuk unta,” Lebih dari itu, bukankah sebuah amal baru akan diterima di sisi Allah ketika niat, cara dan tujuannya adalah benar.

Tanggung jawab siapakah ketika masyarakat tak lagi bisa membedakan mana yang syar’I dan tidak? Tanggung jawab siapakah ketika masyarakat menilai aurat wanita sebagai bagian yang sah untuk diperlihatkan keindahannya? Tanggung jawab siapakah ketika nilai-nilai kemuliaan yang diatur sedemikian sempurna dalam Islam seolah menjadi asing dan aneh? Tanggung jawab siapakah ketika para orang tua bahkan sebagian guru justru berbangga ketika para puteri mereka membuat mata lelaki terbelalak hingga mampu menggetarkan panggung berkarpet merah?. Dimanakah ghirah (perasaan cemburu) terhadap agama sendiri? Ghirah yang semestinya dipupuk agar ukhuwah terjaga, agar kemuliaan Islam tetap terpelihara hingga tak ada intervensi asing yang mampu memecah belah ukhuwah Islamiyah?.

Apakah permisivisme masyarakat atas nilai-nilai yang dulu dipegang erat menjadi pintu awal disleksia social?. Rasanya tidak juga. Sebagian masyarakat memang belum memahami konteks syar’I kesantunan wanita dalam mengaktualisasikan diri. Tetapi mungkin lebih tepatnya masyarakat kita terkesan tidak peduli pada nilai-nilai syar’I itu sendiri. Sebuah kesadaran yang mesti dibangunkan dari tidur panjangnya.

Disleksia. Diambil dari khasanah psikologi, khususnya perkembangan anak, ia merupakan istilah untuk anak-anak usia pendidikan sekolah yang mengalami kesulitan membaca. Seorang anak yang terkena disleksia tidak mampu membedakan huruf-huruf yang hampir sama, misalnya antara “b” dan “d”.

Disleksia dalam kehidupan masyarakat tidak dibatasi pada usia. Ia bisa menyerang siapa saja terutama mereka yang enggan untuk memperdalam pemahaman hingga akhirnya terkesima pada kulit luarnya saja, lalu ditimbun dengan isyu-isyu gender yang belakangan mulai menelusup, lalu dibumbui oleh pandangan media yang notabene adalah lahan paling nyaman untuk menitipkan pemikiran-pemikiran liberal. Melalui media segalanya bisa saja digaungkan. Hingga pemikiran-pemikiran Barat pun dengan mulusnya menginjeksi konsep Islam yang bersih dan mulia. Sampai pada akhirnya kebebasan perempuan menjadi sebuah pemahaman tentang kebebasan yang sebebas-bebasnya, tanpa kendali. Itu pun dibenarkan oleh sebagian kaum muslimin. Sebagian malah menentang kebenaran Islam, menyebut-nyebut bahwa Islam begitu kaku dengan aturannya hanya demi sebuah alibi untuk bisa mengenakan hal yang serupa ditawarkan dunia barat.

Miris, tentu saja. Fenomena yang hari ini kita lihat telah begitu kokohnya memasang label Islami pada produk yang sesungguhnya jauh dari nilai-nilai Islami. Terkenang pada bersahajanya Ibunda Khadijah dalam menjaga kemuliaan diri. Terkenang pada Aisyah ra yang mengisi hari-harinya dengan belajar dan menerapkan nilai-nilai Islami, begitu setianya mengikuti tuntunan Rasulullah, begitu tekunnya mendalami ilmu hingga wajarlah Allah memberikan petunjuk dan penerang. Hingga wajarlah Allah menjaganya dari fitnah dan mengabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an.

Lebih sederhana lagi mungkin bila kita telusuri kehidupan Kartini yang hari kelahirannya diperingati setiap tanggal 21 April sebagai hari bersejarah bagi Perempuan Indonesia. Kartini yang berusaha menyampaikan kepeduliannya akan nasib perempuan, yang menularkan pemahaman agamanya kepada mereka yang belum memahami sebagaimana yang dia pahami. Adakah lagi Kartini di masa ini yang memiliki kepedulian setara, setidaknya seirama?.
Barangkali memang bukan menjadi kesalahan siapa-siapa. Masyarakat mencintai budaya melayu sekaligus memeluk agama Islam ini sendiri dengan dekapan yang berbeda. Ada yang membuatnya harmonis hingga terekam indahnya. Ada pula yang membuatnya berbeda jalur. Padahal Islam itu universal dan menyeluruh mencakup seluruh segi kehidupan baik dalam mabda (prinsip hidup), manhaj (system), maupun ghayah (tujuan hidup). Jadi bagaimana bisa disetujui bila ada orang yang berkata “Ah, Islam itukan hanya rutinitas ibadah dan sloga KTP. Biarlah saya hidup dengan cara apa saja yang penting agamanya Islam”, Kalau demikian berarti belum Islam seutuhnya dong, Sist!. Tetapi barangkali juga ada benarnya bila kondisi ini tidak dibiarkan meluncur deras tanpa rambu-rambu. Islam bukanlah agama Liberal. Islam adalah sebuah dien yang sempurna. Karenanya sama sekali tidak pantas kita menodainya dengan pelencengan nilai-nilai Islami itu untuk mempermudah diri yang pada dasarnya adalah anak tangga kesuksesan kaum kafir dalam menelusupkan pemikiran mereka yang berujung pada kesetujuan kita atas konsep Barat yang nyata salahnya.

Keseimbangan Gender yang Salah Kaprah

Mengutip penuturan Izzatul Jannah dalam bukunya “Muslimah Sukses”, Perempuan, dalam lingkup lebih sempitnya adalah muslimah yang beiman dengan benar dan memiliki pengetahuan Islam akan mampu untuk menjadi penggerak dalam memakmurkan bumi. Tidak ada pembatas apa pun. Hal yang dapat menghalangi muslimah dalam berkembang adalah keterbatasan pengetahuan dan kekurangan energi dalam beraktivitas. Akan tetapi bila muslimah telah menemukan sumber energi yang tidak terbatas -iman dan takwa- muslimah akan berjalan tanpa lelah untuk mewujudkan kesejatian muslimah dalam kehidupan. Allah SWT tidak membeda-bedakan lelaki dan perempuan yang harus dianggap lebih rendah dari yang lain. Lelaki dan perempuan berada dalam kerangka penilaian yang setara. Bobot nilai yang diberikan pun sama. Yang berbeda adalah amanahnya. Kita semua kemudian dinilai dengan seberapa baik kita dalam menjalankan amanah kehidupan tersebut. Amanah kemudian datang dan mulai ada perbedaan spesifikasi peran antara laki-laki dn perempuan berdasarkan keadaan fisik dan anugerah fitrahnya yang memang tidak sama.

Pergeseran pemahaman yang dibuat oleh media barat menggunakan sarana ini. Melalui isyu gender dan feminisme ini, perempuan muslimah pun seolah dikompori untuk melejitkan aktualisasi diri tanpa batas. Dari sisi lain keseimbangan gender juga dihentak dengan fitnah infleksibilitas Islam. Akhirnya perlahan-lahan seorang perempuan muslimah dengan keterbatasan pengetahuan dan kekurangan energi –iman dan taqwa-nya pun menganggukkan kepala sembari meng-iyakan suntikan media barat itu sebagai nilai yang benar.
Ada lagi yang menghebohkan. Baru-baru ini sebuah media memberitakan tentang prestasi aktivis feminis Indonesia dalam memperjuangkan nilai-nilai feminisme sampai-sampai diberikan hadiah Nobel. Perfect. Kaum feminis pun makin garang dengan keakuannya. Di sisi lain aktivis-aktivis Islam yang nyata-nyata memperjuangkan agama Islam dengan perilaku hanif, akhlak santun dan ibadah khusyu’ di tentang habis, ditangkapi dan mendapat trade mark “kuno”. Lantas dengan cara apa yang paling pantas membenahi akhlak bangsa ini? Atau memang bangsa ini sudah sedemikian bobrok hingga memborok sampai-sampai Allah menutup nurani kita untuk melihat kebenaran? Naudzubillahimindzalik.

Bertepatan dengan hari Kartini tahun ini, barangkali ada baiknya bila kita bercermin dan menatap bayangan kita sendiri. Adakah di sana terlihat pias bersahajanya kita sebagai perempuan Indonesia yang dulu dikenal dengan kesantunannya? Adakah di sana pias tanggung jawab kita sebagai muslimah yng mestinya menjaga kehormatan diri sebagai hamba Allah sekaligus khalifatu fil’ardh? Adakah di sana guratan lelah yang sudah terukir demi sebuah bukti pembelaan kita ketika agama kita Islam diinjak-injak, atau justru tindakan kita sendiri yang menginjak-injaknya dengan menggadaikan label kemuliaan Islam untuk sebuah hal yang jauh dari nilai syar’i. Sedikit anekdot barangkali bolehlah menyentil nurani kita, “Sebernarnya, kita malas untuk belajar Islam, atau justru kita memang seorang pengecut yang takut kalau-kalau kita sendiri ternyata membaca kesalahan kita yang sedikit banyak ternyata bernama munafik?,” Kita sendiri yang bisa menjawabnya. Allahu’alam bishowab

APOTEMA

Apotema. Kata itu biasa dikenalkn oleh guru matematika kita khususnya ketika membahas salah satu bab geometri yakni lingkaran. Ada banyk garis yang dipelajari ketika mengenal lingkaran, sebuah bangun geometri dengan sudut sempurna 360 derajat. Salah satunya disebut apotema, yang artinya adalah garis yang ditarik dari pusat lingkaran yang tegak lurus tali busur dan membagi dua sama panjang tli busur itu.
Pernahkah terpikir oleh anda andaikan tali busur itu ditiadakan ? Sesungguhnya yang terlihat pada apotema itu hanyalah sebuah garis yang menggantung di pusat lingkran. Sederhananya kita lihat saja jarum pendek pada jam dinding berbentuk lingkaran. Barangkali itu pula yang menjadi latar belakang para penemu jam dalam mendesain pergerakan waktu perdetiknya pada sebuah jam dinding. Semakin kuat tekanan pada pusat lingkaran, akan semakin kuat pula kedudukan apotema itu. Hal ini terbukti pada pergeakan jarum jam yang menandai detik, menit dan jam. Bukankah jarum yang mengukur detik waktu berjaln jauh lebih cepat dibanding jrunm yang mengukur hitungn menit atu jam? Pertanyannya aalah, apakah garis itu masih akan disebut apotema jika tali busurnya tidak ada?
Sekarang, mari kita berbicra tentang konsep apotema yang mendasar, maksud saya apotema yang brlektan pada pusat lingkaran dan memotong tali busur menjadi dua bgian sama panjang.
Bayangkan anda menarik tali busur mulai dari tepi lingkarn hingga ke pusat lingkaran. Semkin ke tengh maka tali busur akan semakin panjng hingga maksimal disebut diameter. Sebaliknya semakin ke tepi lingkaran, tali busur yang dipotong oleh apotema juga akan semakin pendek.
Berbicara tentng lingkaran dan apotema, pada dasarnya bisa dianalogikan pada car berfikir kita. Dalam banyak hal, apotema bisa berlaku demikian pragmatis. Seseorang yang cerdas akan menggunakan apotema terpendek untuk menghasilkan tali busur terpanjang. Yes, its like prinsip ekonomi, dengn modal yang sekecil-kecilnya (apotema) menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya (tali busur).
Apotema juga berlaku bagi para pemikir praktis. Konsep pemikiran mereka terangkum dalam sebuah lingkaran. Mereka akan menyelesaikan proyek lingkarn itu dengan apotema terpendek yang artinya menggabungkan dua tali busur terpanjang (diameter) untuk menyempurnkan lingkaran (hmm.. bukankah ini pola kerjanya para boss atau pimpinan yang tinggal atur ini itu dari balik meja ??).
Apotema, dalam konteks lebih luas tentu saj berlaku dalam kehidupan kita. Tergantung pada lingkaran mana kita berada dan lingkaran apa yang memback up hidup kita, hingga apotem seperti apa yang kita gunakan sebgi jlan menuju tali busur-tali busur kehidupa. Suatu saat apotema itu menemui garis tepi lingkaran sat usia kita mesti terpenggal pada batas duniawi yaitu ajal. Setelahnya jika apotema itu diteruskan di luar btas lingkaran akan menjadi sebuah gris menuju ruang tk terbatas. Sebuah kehidupan hakiki di masa depan setelah kematian, gaib, tk terbayangkan.
Namun, sadarkah kita, selagi apotema terpancang kuat pada kekuatan di pusat lingkran kehidupan, sesungguhnya apotema itu akan tetap aman terkendali.
Dan benarlah seperti firmannya dalam Q.S. Al-Ikhlas : 2, Allahusshomad. Allah, tempat bergantung segala sesuatu. Selanjutnya, tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita, bagaimana kebergantungan kita pada-Nya dalam selarik perjalanan hidup kita selama ini? (Rieve)

My Favourite Film

  • The Message
  • Vertical Limit
  • Turtle can Fly
  • The Kite Runner
  • The Purshuit of Happynes
  • Ie Grand Voyage
  • Sang Murabby

My Favourite Books

  • Tetralogi Laskar Pelangi
  • A Thousand Splendid Suns
  • The Kite Runner

Acara TV Favourite

  • Akhirnya Datang Juga
  • Wisata Kuliner
  • Cinta Fitri, hehehe
  • e-Lifestyle
  • Padamu Negeri
  • Apa Kabar Indonesia
  • Kick Andy
  • Todays Dialogue
  • The nanny 911

Bagaimana pendapat anda tentang blog ini?